Iri

Terkadang aku merasa iri kepada mereka, orang-orang yang memiliki banyak uang dan dekat dengan teknologi.


Tidak Sempat

 

Menulis bagi saya itu sempat tidak sempat harus dilakukan. Bukan berarti saya suka menulis, sampai-sampai menulis itu suatu keharusnya, ya… mau di apa, dari dulu disuruh menulis, dipaksa menulis. Sudah bertahun-tahun menulis tetap juga tidak jadi penulis. Eh… kalau ditelusuri, sudah cukup kalau saya merasa menulis itu kebutuhan, walaupun tulisan-tulisan yang pernah saya buat kurang berbobot.

Nah, malam ini ada kesempatan berinternet ria, tetapi tidak sempat menuliskan pikiran yang ada di kepala. Banyak sekali cerita, tetapi bukan cerita yang singkat. Cerita panjang dan memusingkan. Mungkin lain kali saja…

O ya… tahu salah satu alasan kenapa tidak sempat menulis di kesempatan ini? Baca One Piece!

 


Berkerah dan Bertopi Putih

Kaget. Itu kesan saya ketika menyempatkan diri melihat latihan Passus. Ada perubahan signifikan pada seragam latihan rutin. Sekarang baju latihan dilengkapi dengan kerah, topi berubah warna menjadi putih dan memiliki bagian tambahan untuk menutupi tengkuk dan telinga. Saya memang mendengar bahwa baju latihan yang tadinya hanya kaos lengan panjang akan ditambah kerah, tetapi soal topi belum dengar. Topi merah dengan bahan beludru diganti menjadi kain putih bukan beludru (saya tidak tahu apa jenis kain yang digunakan).

Saya mengunjungi latihan sekitar pertengahan bulan Februari, haha… 😀 Lama sekali ya waktu yang digunakan untuk membuat tulisan ini.

Berdasarkan penuturan komandan Passus saat itu sekaligus ketua pelaksana pengadaan seragam latihan yang baru, Safira Widyaputri, baju latihan diberi kerah untuk menyesuaikan dengan kebiasaan Passus yang selalu menggunakan pakaian rapi. “Kalau latihan tidak pakai seragam latihan, pakai pakaian bebas, harus berkerah. Alasannya supaya rapi dan enak dilihat, kalau begitu kenapa seragam latihan tidak dibuat berkerah saja?”. Komandan Safira menambahkan bahwa perubahan ini diusulan oleh anggota Passus, sedangkan perubahan pada topi diusulkan oleh Pembina Passus, yaitu Pak Tjiptoroso.

Perubahan topi dilakukan setidaknya karena dua alasan berikut, yang pertama topi merah berbahan beludru mudah luntur dan kusam bila rutin dikenakan sehingga mengurangi “kewibawaan” anggota yang mengenakannya, sedangkan yang kedua adalah tidak ada salahnya memodifikasi topi untuk melindungi bagian tengkuk dan telinga. Ketika melaksanakan upacara atau mengikuti perlombaan topi merah akan tetap digunakan, topi berwarna putih khusus digunakan untuk latihan. Dengan adanya topi putih ini, diharapkan topi merah dapat lebih awet hingga anggota Passus lulus dari SMA N 1 Pekalongan.

Secara bertahap, seluruh anggota Passus akan menggunakan baju latihan berkerah. Sedangkan untuk topi putih hanya digunakan oleh Junior. Senior dan Dewan Senior tetap menggunakan topi berwarna merah. Artinya ketika menjadi Senior, anggota akan membeli topi baru. Hal ini dirasakan tidak memberatkan karena tiap tahunnya ada beberapa senior yang menyempatkan diri membeli topi baru karena usia pakai topi merah berbahan beludru memang tidak lama. Dalam waktu 1 tahun, topi merah biasanya sudah tidak layak dipakai.

Putra (tampak depan)

Putra (dari belakang)

Putri (dari belakang)

Intinya perubahan-perubahan yang dilakukan itu karena dinilai memberikan nilai tambah. Jika perubahan itu membuat yang buruk menjadi baik dan yang baik menjadi semakin baik, berarti perubahan yang satu ini masih akan diikuti dengan perubahan yang lain. Ditunggu perubahan lainnya!


Buku untuk Passus

Bahkan sewaktu mengambil cuti pun, tetap aja kerepotan. Repot kali ini tentang Passus, tentang hal yang belum sempat dikerjakan ketika masih menjadi ketua (perintis) ikatan alumni. Hanya karena alasan “tidak suka membiarkan sesuatu ‘berakhir’ tanpa diakhiri” tulisan ini dibuat.

Dulu ada rencana untuk membuat perpustakaan di Passus karena Passus seharusnya tidak hanya dibekali oleh kemampuan lapangan tetapi juga dengan pengetahuan yang luas. Pengetahuan itu macam-macam, yang utama bagi Passus sepertinya tentang cinta tanah air (sejarah, kepahlawanan, kondisi bangsa, dsb), pendidikan militer dan pengembangan diri. Cara mencari pengetahuan pun bermacam-macam, cara yang paling “mudah” adalah dengan membaca buku.

Passus sebagai organisasi dan sebagai satu kesatuan anggota harus berubah (menyesuaikan diri) dengan tantangan yang ada. Oleh karena itu, perubahan harus dilakukan dari sekarang. Dengan adanya perpustakaan, diharapkan ada perubahan dan perubahan itu bergulir dari sesuatu yang reaktif (dalam hal ini Senior memegang peranan penting) menjadi gaya hidup (dalam hal ini semua elemen Passus memegang peranan penting). Perpustakaan menjadi perubahan yang dilakukan pertama, selain evaluasi kegiatan rutin, karena buku dipercaya dapat mendorong setiap anggota Passus untuk berpikir mengenai suatu perubahan.

Jika kita cermati, perubahan memang harus dilakukan mestipun ada keterbatasan, karena perubahan memang diperlukan untuk mengatasi keterbatasan tersebut. Ada beberapa alasan untuk berubah, saya tidak menemukan siapa pencetus teori ini, yaitu

  • Organisasi / perusahaan yang sudah “berdarah-darah”. Perubahan adalah satu-satunya pilihan atau dipaksa berubah (reaktif).
  • Organisasi / perusahaan yang saat ini dalam kondisi baik, tetapi melihat adanya ancaman di masa depan. Perubahan merupakan pilihan (proaktif).
  • Organisasi / perusahaan yang saat ini sedang memimpin dan tidak ada tanda-tanda ancaman di masa depan. Perubahan merupakan budaya (gaya hidup).

Rencana awal, buku yang akan diserahkan ke Passus berasal dari alumni-alumni, tetapi dalam pelaksanaanya rencana itu gagal. Walaupun tidak semua alumni tahu bahwa ada gerakan membuat perpustakaan -saya sendiri tidak yakin semua alumni mendukung gerakan ini-, buku tetap terkumpul dan cukup untuk inisiasi perpustakaan Passus. Sayang sekali daftar buku yang disumbangkan hilang dan saya hanya bisa mengingat sebagian dari sekitar 22 buku yang disumbangkan. Buku-buku itu antara lain:

  1. Minggir: Waktunya Gerakan Muda Memimpin
  2. Jejak-Jejak Pahlawan
  3. Demi Allah dan Demi Indonesia
  4. Bumi Hangus
  5. Praktik Culas Bisnis Gaya Orda Baru
  6. Manusia dan Olahraga
  7. 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia
  8. Angkasa Edisi Koleksi No. LI : The Great History of Cavalry
  9. Angkasa Edisi Koleksi No. LV: Alutsista dalam Negeri
  10. Angkasa Edisi Koleksi No. LVII : The Forgotten War 1950-1953
  11. Angkasa Edisi Koleksi No. VIII: Special Forces
  12. Angkasa Edisi Koleksi No. XII: Kapal Induk
  13. Angkasa Edisi Koleksi No. XLIX: Perang Asia Timur Raya
  14. Angkasa Edisi Koleksi No. XV: Artileri
  15. Angkasa Edisi Koleksi No. XXXIX: Guerra De Las Malvinas
  16. Angkasa Edisi Koleksi No. XXXVII: Kudeta
  17. Angkasa Edisi Koleksi No. XXXXX: Perang Asia Timur Raya 2

Saat penyerahan buku hanya ada Senior sehingga saya hanya mendapatkan reaksi Senior, itupun melalui ekspresi dan ucapan saat membuka-buka buku, bukan berupa testimoni atau surat resmi. Komandan yang saat itu menjabat juga tidak hadir karena ada rapat. Reaksi Junior saya tidak tahu. Jika boleh menarik simpulan sepihak, buku-buku itu diterima dengan baik, tetapi “waktu” dibutuhkan untuk memastikan apakah buku-buku itu bermanfaat.

Tentu saja seharusnya buku-buku itu tidak selesai ketika diserahkan, harus ada program pengembangan yang dikelola oleh Senior yaitu bagaimana mengontrol sistem peminjaman dan perawatannya, bagaimana pendataan buka apa yang dipinjam dan siapa yang pinjam agar dapat diperkirakan buku jenis apa yang akan disediakan berikutnya dan bagaimana mendorong anggota Passus untuk membaca. Lebih mendasar dari itu adalah bagaimana membuat anggota Passus untuk menuangkan pikiran yang muncul setelah membaca.

Kegiatan Membaca seharusnya diikuti dengan menuangkan isi pikiran yang muncul setelah membaca.
-Doddey Sanjaya

Membaca melahirkan pikiran-pikiran acak di kepala yang mungkin saja berupa gagasan yang acak pula. Gagasan itu harus dirangkum, dirapikan kemudian dianalisis sehingga gagasan yang baru sesuai permasalahan/tantangan yang dihadapi pembaca dapat lahir. Gagasan ini kemudian diejawantahkan menjadi rencana taktis.

Saya pribadi berharap Passus memberikan respon atau testimoni atas rencana perpustakaan ini sekaligus membuka komunikasi yang selama ini dirasakan sulit untuk dibina. “Gelombang pertama” perpustakaan Passus sudah dimulai, semoga ada gelombang berikutnya dengan dukungan yang lebih banyak dan besar daripada gelombang pertama ini.


Akhirnya Menanam Pohon Juga

Dari dulu ingin sekali menanam pohon, bukan pohon di pekarangan rumah tapi di lahan yang entah punya siapa dan di sana butuh pohon. Kalau di pekarangan rumah sih sudah sering, di rumah ada kebun barang sepetak. Eh, siapa sangka keinginan tersebut tercapai di saat bekerja di dunia pertambangan, yang kata orang-orang (entah siapa) dunia pertambangan itu merusak alam. Tentu saja pendapat bahwa dunia pertambangan itu merusak alam harus ditinjau dari banyak aspek dan di lokasi mana (apa, siapa dan bagaimana) alam dieksploitasi.

Keinginan tersebut terlaksana karena ada program CSR di bidang lingkungan. Selain program CSR, isu lingkungan sudah mendapat perhatian khusus dari Pama sampai-sampai ada Ikrar K3LH dan poin dari Nilai Inti yang menyatakan kepedulian terhadap lingkungan. Lihat, saya menaman pohon di saat jam kerja dengan perlengkapan kerja pula.

Nah, rupanya karyawan di Pama bisa galau kalau lingkungan tidak hijau. Jadi, setelah menaman beberapa pohon di pit dengan bangga saya mengatakan saya tidak lagi galau walaupun nomor IM3 anti-galau tidak dapat dipakai di sini.


Suara Anda : UN, Perlu atau Tidak?

 

Minggu ini, media diramaikan oleh berita mengenai Ujian Nasional (UN). Tentu saja saya tahu mengenai UN karena dulu saya pernah mengikutinya. Setiap tahunnya UN mengalami perubahan sehingga seperti apa UN sekarang saya tidak tahu. Dengan pengalaman yang ada, dan ketidaktahuan mengenai kondisi sekarang, saya mencoba untuk bluffing menjawab pertanyaan Suara Anda : UN, Perlu atau Tidak.

Untuk saat ini, UN diperlukan. Kenapa? Karena “wajib belajar 9 tahun” itu wajib, artinya ada syarat atau standar yang harus dilalui untuk menyatakan seseorang memang telah menyelesaikan masa “wajib belajar”. Selama ini, syarat atau standar itu tidak ada, dengan kata lain, lulusan UN SMA/sederajat bisa saja “ilmu”-nya tidak seperti yang diharapkan atau bahkan tidak lebih baik dari jenjang pendidikan yang lebih rendah.

“wajib belajar 9 tahun” diberi tanda petik karena saya rasa wajib belajar sekarang 12 tahun, bukan 9 tahun lagi. Toh, UN ini juga buat siswa/i SMA, kalau benar-benar hanya 9 tahun, dengan tegas saya katakan UN tidak perlu untuk tingkat SMA/sederajat. Tantangan yang ada sekarang mengharuskan pendidikan minimal itu SMA/sederajat. Ini hanya pendapat saya dan masih dapat diperdebatkan.

Kembali ke masalah UN, UN cocok hanya untuk saat ini karena saat ini pemerhati dan penggerak pendidikan di Indonesia belum menemukan sistem evaluasi syarat/standar yang (lebih) cocok untuk menyatakan sesorang telah memiliki “kematangan” yang cukup untuk bersaing dalam masyarakat luas. Kekurangan utama UN yang sekarang adalah tekanan yang muncul akibat syarat kelulusan UN. Coba bayangkan, belajar itu mengedepankan “kebebasan berpikir” tetapi UN membuat pesertanya stress. Segera setelah sistem evaluasi yang (lebih) cocok ditemukan, UN tidak lagi dibutuhkan.

Permasalahan seperti siswa/i menyontek atau soal bocor bahkan kunci jawaban palsu itu bukan masalah utama, jadi tidak perlu dibahas. Itu hanya masalah turunan yang muncul karena keinginan untuk lulus yang tidak didukung dengan usaha yang baik dan oknum yang ingin membuat pendidikan di Indonesia makin berantakan.

Terkadang kita memang harus memilih yang terbaik dari yang buruk. Nah, oleh karena itu, menurut saya UN perlu, karena saat ini itu yang terbaik. Terlepas dari segala kekurangan yang ada pada UN, terbukti UN dapat membuat banyak orang berdoa. Bahkan dibeberapa tempat ditemukan peserta UN berdoa berjamaah dan berbakti sosial pula.

😛 Cuma sekedar pendapat di tengah kerinduan belajar di institusi formal.

 


Copot Eh Cepot