Buku untuk Passus

Bahkan sewaktu mengambil cuti pun, tetap aja kerepotan. Repot kali ini tentang Passus, tentang hal yang belum sempat dikerjakan ketika masih menjadi ketua (perintis) ikatan alumni. Hanya karena alasan “tidak suka membiarkan sesuatu ‘berakhir’ tanpa diakhiri” tulisan ini dibuat.

Dulu ada rencana untuk membuat perpustakaan di Passus karena Passus seharusnya tidak hanya dibekali oleh kemampuan lapangan tetapi juga dengan pengetahuan yang luas. Pengetahuan itu macam-macam, yang utama bagi Passus sepertinya tentang cinta tanah air (sejarah, kepahlawanan, kondisi bangsa, dsb), pendidikan militer dan pengembangan diri. Cara mencari pengetahuan pun bermacam-macam, cara yang paling “mudah” adalah dengan membaca buku.

Passus sebagai organisasi dan sebagai satu kesatuan anggota harus berubah (menyesuaikan diri) dengan tantangan yang ada. Oleh karena itu, perubahan harus dilakukan dari sekarang. Dengan adanya perpustakaan, diharapkan ada perubahan dan perubahan itu bergulir dari sesuatu yang reaktif (dalam hal ini Senior memegang peranan penting) menjadi gaya hidup (dalam hal ini semua elemen Passus memegang peranan penting). Perpustakaan menjadi perubahan yang dilakukan pertama, selain evaluasi kegiatan rutin, karena buku dipercaya dapat mendorong setiap anggota Passus untuk berpikir mengenai suatu perubahan.

Jika kita cermati, perubahan memang harus dilakukan mestipun ada keterbatasan, karena perubahan memang diperlukan untuk mengatasi keterbatasan tersebut. Ada beberapa alasan untuk berubah, saya tidak menemukan siapa pencetus teori ini, yaitu

  • Organisasi / perusahaan yang sudah “berdarah-darah”. Perubahan adalah satu-satunya pilihan atau dipaksa berubah (reaktif).
  • Organisasi / perusahaan yang saat ini dalam kondisi baik, tetapi melihat adanya ancaman di masa depan. Perubahan merupakan pilihan (proaktif).
  • Organisasi / perusahaan yang saat ini sedang memimpin dan tidak ada tanda-tanda ancaman di masa depan. Perubahan merupakan budaya (gaya hidup).

Rencana awal, buku yang akan diserahkan ke Passus berasal dari alumni-alumni, tetapi dalam pelaksanaanya rencana itu gagal. Walaupun tidak semua alumni tahu bahwa ada gerakan membuat perpustakaan -saya sendiri tidak yakin semua alumni mendukung gerakan ini-, buku tetap terkumpul dan cukup untuk inisiasi perpustakaan Passus. Sayang sekali daftar buku yang disumbangkan hilang dan saya hanya bisa mengingat sebagian dari sekitar 22 buku yang disumbangkan. Buku-buku itu antara lain:

  1. Minggir: Waktunya Gerakan Muda Memimpin
  2. Jejak-Jejak Pahlawan
  3. Demi Allah dan Demi Indonesia
  4. Bumi Hangus
  5. Praktik Culas Bisnis Gaya Orda Baru
  6. Manusia dan Olahraga
  7. 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia
  8. Angkasa Edisi Koleksi No. LI : The Great History of Cavalry
  9. Angkasa Edisi Koleksi No. LV: Alutsista dalam Negeri
  10. Angkasa Edisi Koleksi No. LVII : The Forgotten War 1950-1953
  11. Angkasa Edisi Koleksi No. VIII: Special Forces
  12. Angkasa Edisi Koleksi No. XII: Kapal Induk
  13. Angkasa Edisi Koleksi No. XLIX: Perang Asia Timur Raya
  14. Angkasa Edisi Koleksi No. XV: Artileri
  15. Angkasa Edisi Koleksi No. XXXIX: Guerra De Las Malvinas
  16. Angkasa Edisi Koleksi No. XXXVII: Kudeta
  17. Angkasa Edisi Koleksi No. XXXXX: Perang Asia Timur Raya 2

Saat penyerahan buku hanya ada Senior sehingga saya hanya mendapatkan reaksi Senior, itupun melalui ekspresi dan ucapan saat membuka-buka buku, bukan berupa testimoni atau surat resmi. Komandan yang saat itu menjabat juga tidak hadir karena ada rapat. Reaksi Junior saya tidak tahu. Jika boleh menarik simpulan sepihak, buku-buku itu diterima dengan baik, tetapi “waktu” dibutuhkan untuk memastikan apakah buku-buku itu bermanfaat.

Tentu saja seharusnya buku-buku itu tidak selesai ketika diserahkan, harus ada program pengembangan yang dikelola oleh Senior yaitu bagaimana mengontrol sistem peminjaman dan perawatannya, bagaimana pendataan buka apa yang dipinjam dan siapa yang pinjam agar dapat diperkirakan buku jenis apa yang akan disediakan berikutnya dan bagaimana mendorong anggota Passus untuk membaca. Lebih mendasar dari itu adalah bagaimana membuat anggota Passus untuk menuangkan pikiran yang muncul setelah membaca.

Kegiatan Membaca seharusnya diikuti dengan menuangkan isi pikiran yang muncul setelah membaca.
-Doddey Sanjaya

Membaca melahirkan pikiran-pikiran acak di kepala yang mungkin saja berupa gagasan yang acak pula. Gagasan itu harus dirangkum, dirapikan kemudian dianalisis sehingga gagasan yang baru sesuai permasalahan/tantangan yang dihadapi pembaca dapat lahir. Gagasan ini kemudian diejawantahkan menjadi rencana taktis.

Saya pribadi berharap Passus memberikan respon atau testimoni atas rencana perpustakaan ini sekaligus membuka komunikasi yang selama ini dirasakan sulit untuk dibina. “Gelombang pertama” perpustakaan Passus sudah dimulai, semoga ada gelombang berikutnya dengan dukungan yang lebih banyak dan besar daripada gelombang pertama ini.

About Dode

Seorang mahasiswa Teknik Sipil yang sering disebut-sebut kurang kerjaan sampai mengerjakan hal-hal yang tidak perlu dikerjakan. View all posts by Dode

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: