Evaluasi Dari Sesepuh

Siang itu, setibanya di Balairung – UI saya bergegas mencari anggota HMS yang lainnya. Eh, saya melihat Pak Sandro berada di Balairung juga. Pak Sandro hanya bersama Pak Caska, yang juga dari lembaga kemahasiswaan. Spontan saya bertanya dalam hati, “Lho, kenapa gak ada anggota HMS yang menemani Pak Sandro? Gak kenal atau gimana?”. Tanpa ambil pusing dengan pertanyaan itu, saya mendekati Pak Sandro dan berbincang-bincang soal KJI KBGI tahun ini.

Ada hal-hal penting yang disampaikan Pak Sandro, tentu saja hal tersebut adalah evaluasi kinerja HMS ITB dalam KJI KBGI. Selagi berbincang-bincang, HP saya terus berbunyi, mantan Kahim HMS, Amri Sanusi, bertanya posisi dan kegiatan saya saat itu. Rupanya Amri cukup kalang kabut dan merasa tidak enak hati karena mendapat SMS dari Pak Sandro (awalnya Amri tidak tahu kalau itu dari Pak Sandro) yang berbunyi demikian,

… Saya sekarang lagi meninjau teman-teman kamu nih, lomba KJI di UI. Sayangnya tahun ini jembatan kayu tidak lolos final ya? Perlu dievaluasi tuh,🙂. Tahun lalu padahal dapat perunggu kan ya? Untuk jembatan bentang panjang, saya lihat sekilas masih banyak yang harus di-improve ya,🙂. Sorry ya ngobrolnya masih sama kamu, kahimnya ngga ada soalnya,🙂.

Amri sedang ada di Kalimantan, urusan dengan Pak Sandro diserahkan kepada saya. Saya mendapat informasi bahwa Iwan, Kahim HMS ITB setelah Amri, tidak datang karena sakit. Sayangnya, fungsi Iwan tidak digantikan dengan baik oleh pengurus lain yang ada di bawahnya. Dari kejadian di atas terbukti bahwa Pak Sandro, sebagai sesepuh dalam urusan kemahasiswaan, benar-benar memantau dan mendukung HMS ITB dalam berkarya. Beliau sampai turun langsung ke lapangan, jarang ada yang seperti ini di ITB. Evaluasi dari beliau merupakan masukan yang luar biasa berharga, sayang sekali bila diabaikan begitu saja.

Sebenarnya evaluasi yang beliau sampaikan sebagian besar pernah beliau sampaikan tahun lalu (walaupun ada beberapa hal yang baru), lalu kenapa tidak ada perubahan signifikan yang dialami oleh HMS ITB dalam KJI KBGI? Saya rasa Pak Sandro merasa tidak “diterima” sepenuhnya oleh HMS ITB (secara organisasi maupun budaya). Saya merasa seperti itu karena beliau sempat berkata, “Tolong sampaikan hal ini teman-teman yang lain ya… Kalau kamu yang bilang kan lebih didengar daripada saya yang orang luar”. Dalam hati saya berkata, “Saya aja belum tentu didengar Pak, haha…”

Mungkin masalah utama kenapa di HMS sulit sekali maju adalah tidak adanya jalur akses evaluasi. Sulit sekali bagi anggota HMS yang tidak terlibat langsung dengan kegiatan yang sedang dilakukan untuk memberikan saran dan evaluasi. Sedangkan mereka yang terlibat langsung saat melakukan evaluasi cenderung terlihat tidak serius, baik dalam analisis mengapa target tidak tercapai dan apa yang masih bisa diperbaiki maupun dalam melaksanakan evaluasi tersebut. Ingat, evaluasi bukan hanya sekedar “bincang-bincang sesudah acara” tetapi suatu tindakan (terus menerus) yang dituntut hasilnya.

Hal pertama yang harus diperbaiki adalah “ilmu manajemen” dalam melaksanakan sesuatu. Pak Sandro berkata bahwa ilmu Teknik Sipil itu mirip dengan Teknik Mesin, Mereka adalah ilmu kuno. Persaingan akan sangat ketat karena sudah banyak sekali ilmu di kedua bidang ini, semua orang sudah mempelajarinya. Oleh karena itu, untuk unggul dibidang ini, kita juga harus belajar bagaimana memanajemen, khususnya dalam kasus perlombaan.

KJI KBGI merupakan perlombaan tahunan. Tuntuan dalam perlombaan ini berubah tiap tahunnya tetapi perubahaan itu tidak menyeluruh. Ada beberapa ketentuan lomba yang tetap tiap tahunnya, misal bentang jembatan kategori baja selalu 6 meter, cara pengujian model selalu sama yaitu dititikberatkan dalam kekuatan dan defleksi. Setelah mengetahui ini apakah tidak ada tindakan yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan perlombaan yang akan datang?

Mahasiswa S1 ditekankan bahwa konsep itu lebih penting sehingga permasalahan baru pun dapat dipecahkan. Konsep di sini merupakan bagaimana seseorang berpikir hingga ia menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi. Untuk mempelajari alur berpikir tersebut dibutuhkan yang disebut dengan Logbook. Logbook perlu dibuat karena catatan ini menunjukkan apa yang terjadi berdasarkan urutan waktu.

Hal yang lazim bagi peneliti ketika melakukan penelitian adalah membuat logbook. Semua dicatat dalam logbook. Bahkan keluh kesah, lawakan, corat coret, doodle, dan hal yang mungkin tidak terlihat terkait langsung dengan penelitian tersebut dicatat.
-Budi Rahardjo, lihat selengkapnya 

Dalam berorganisasi kita tidak berbicara mengenai suatu kegiatan yang terjadi “kali ini”, tetapi kegiatan yang dilakukan bertahun-tahun. Oleh karena itu, semua yang terjadi (termasuk evaluasi tiap kegiatan) harus dilaporan dan didokumentasikan dengan baik. Inilah salah satu kegagalan evaluasi di HMS, setiap tahunnya HMS selalu memulai dari nol. Memang ada petunjuk-petunjuk lisan dari senior, tetapi bagaimana dengan kualitasnya, bagaimana dengan aksesibilitasnya.

Semua temuan beserta prosesnya hanya mungkin bisa dimanfaatkan oleh generasi penerusnya jika ada dokumennya.
-Anonim

Dari laporan dan evaluasi yang ada, pasti ada hal-hal yang layak dikembangkan. Harus diakui bahwa tidak semua hal dapat secara langsung dikembangkan. Misalnya, metode konstruksi yang digunakan Tim 150 Candela dinilai cukup layak, tetapi tim yang maju tidak menggembangkannya karena mereka memiliki metode tersendiri. Hal ini tidak menjadi masalah ketika hal yang masih dapat dikembangkan itu memiliki tempat inkubasi sehingga tidak mati.

Berikutnya mengenai inventaris alat. Sayang sekali apabila tiap tahun, HMS ITB harus membeli perlengkapan untuk perlombaan. Memang uang tidak masalah tetapi ini pemborosan yang sudah keterlaluan. Uang tersebut dapat digunakan untuk keperluan lain bila HMS ITB dapat menyimpan alatnya dengan baik. Satu hal lagi, bukti bahwa kita dapat melakukan hal yang besar adalah kita dapat melakukan hal-hal kecil seakan-akan itu adalah hal yang besar.

Kategori dalam KJI dan KBGI yang merupakan menunjukkan sebuah “perencanaan” adalah kategori K3 Terlengkap. Jika perencanaan yang dilakukan baik, semua perlengkapan K3 yang digunakan dalam konstruksi jembatan pasti dapat dipakai saat perlombaan. Dengan pendanaan yang luar biasa besar, apakah masalah k3 juga tidak dapat disiapakan dengan baik? Jika tidak, bisa saja pengetahuan HMS ITB tentang K3 masih kurang.

Seharusnya tanggung jawab HMS ITB atas uang yang diberikan dari lembaga kemahasiswaan bukan hanya berupa laporan tetapi berupa kemajuan signifikan dalam prestasi. Semoga HMS ITB cukup rendah hati untuk mengakui bahwa dalam hal keprofesian masih banyak hal yang harus dibenahi.

About Dode

Seorang mahasiswa Teknik Sipil yang sering disebut-sebut kurang kerjaan sampai mengerjakan hal-hal yang tidak perlu dikerjakan. View all posts by Dode

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: