Aku Ikut Senang

Aku tidak suka ketika pikiranku melayang-layang mencarimu… Ada lamunan yang kurang aku pahami karena tidak tergambar dengan baik, tetapi semakin lama semakin jelas dan semakin lengkap. Aku tak tahu apakah ini menyedihkan atau ini suatu persiapan bila hal itu menjadi nyata.

Rasanya pasti mendebarkan ketika aku duduk bersama teman-teman kita dalam resepsi pernikahanmu. Ya… Resepsi pernikahanmu, aku tidak sedang mengada-ada. Suasananya pasti ramai dan meriah. Aku yakin itu. Tetapi bagiku, yang terdengar hanyalah suara tawa bahagia kalian berdua dan canda kawan yang kuanggap mengerti tentang kita.

Beberapa organ tubuhku kuperkirakan akan sulit kukendalikan, bukan tanganku yang ingin segera mengisi perutku, tetapi mataku. Ke arah manapun aku melihat, Ia akan selalu mencarimu, melihat cantikumu dalam balutan gaun putih. Ada satu lagi yang sulit kukendalikan, debar jantungku. Semoga saja jantungku tidak berhenti berdetak sebelum semuanya selesai. Berhenti karena tidak kuat berdebar cepat terus menerus.

Hari itu adalah hari di mana aku merasa menjadi orang yang paling tolol sedunia karena aku masih beraharap kamu akan mengajakku berfoto, bukan foto bersama-sama teman yang lain, tetapi hanya berdua, aku dan kamu tanpa dia. Haha… Aku menertawakan ketololanku, apa pula yang membuatku berharap seperti itu. Walaupun kamu cantik dalam putih gaunmu, aku tetap yakin warna hitam atau merah marun akan membuat senyummu lebih merekah. Hey… Aku belum punya fotomu! Ah, sudahlah… Mungkin senyummu tidak untuk difoto.

Tujuanku datang hanyalah ingin kamu tahu bahwa aku tetap ada di “sini” walaupun kamu bersama dia ada di atas panggung. Aku ingin segera keluar dari ruangan itu, tetapi aku bertahan karena aku tidak yakin kalau kamu tahu bahwa aku datang. Haha… Kali ini aku menertawakanmu. Sering sekali kamu merasa kamu tahu segalanya, tetapi berapa lama dalam satu hari aku memperhatikanmu kamu tidak tahu. Sebaliknya kamu berkata, “Eh, emang dari tadi kamu di sekitar sini?”

Saat semua undangan mengucapkan selamat, akupun akan mengucapkannya, tetapi selamat yang seperti apa? Aku benci sesuatu yang “umumnya begitu”. Untuk apa sekian lama aku mencoba mengenalmu bila akhirnya ucapan yang terucap adalah “Selamat menempuh hidup baru” seperti yang diucapkan oleh orang yang baru kamu kenal dan kebetulan ada undangan yang tersisa.

“Semoga langgeng ya…” pun tidak akan kuucapkan. Entah kenapa, bagiku hubunganmu dengan dia harus kupercayai, bukan sekedar berharap. FYI, aku jarang mengucapkan apa yang aku percayai. Hm… Biasanya dalam resepsi pernikahan, banyak yang mengucapkan “cepat punya anak ya…”. Ah, tidak. Itu kan anak kalian, terserah kalian mau punya anak kapan dan berapa jumlahnya.

Saat aku punya kesempatan untuk menjabat tanganmu, sebagai bukti bahwa aku memberi selamat, dengan perlahan aku akan mendekat dan berbisik di telingamu “Selamat ya…” kemudian kulanjutkan bisikanku di telingamu yang lain bahwa “aku ikut senang”. Aku berbisik supaya dia tidak tahu apa yang kukatakan padamu dan juga supaya apa yang kukatakan benar-benar kamu dengar. Aku berharap kamu tahu apa yang ingin aku sampaikan dalam ucapan itu.

Sambil menunggu surat undang itu tiba, aku akan “belajar” agar apa yang kuucapkan saat itu benar-benar yang muncul dari hati. Jangan lupa bila aku tidak diundang, beritahu aku, supaya aku tidak terus menunggu.

About Dode

Seorang mahasiswa Teknik Sipil yang sering disebut-sebut kurang kerjaan sampai mengerjakan hal-hal yang tidak perlu dikerjakan. View all posts by Dode

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: