Mewariskan Kebiasaan Menulis Kehidupan

Menjelang akhir tahun, ada ritual yang beberapa tahun terakhir ini saya lakukan yaitu pergi ke toko buku untuk membeli buku agenda kerja tahunan yang saya fungsikan sebagai jurnal. Sudah sekitar 7 tahun aku menulis jurnal ini. Awalnya banyak yang kosong tetapi sekarang setiap hari selalu terisi walaupun terkadang isinya kurang ber-“bobot”.

Sebenarnya kalau dibilang sebagai suatu kebiasaan, menulis belum menjadi kebiasaanku, sering harus dipaksakan. Waktu yang digunakan untuk menulis juga lama sekali, dibaca berulang-ulang dan diperbaiki berulang-ulang. Alasan kenapa harus memaksa bila tidak suka, saya juga kurang tahu. Yang jelas, saya dikenalkan dengan “menulis jurnal” dari kakek saya.

Buku-buku yang menjadi warisan bagi keluarga kami

Sudah bertahun-tahun kakek saya menulis jurnal. Kakek saya meninggalkan 68 buah buku jurnal yang terdiri dari 61 buah buku jurnal tahunan dan 7 buah buku rangkuman beberapa jurnal tahunan. Berdasarkan tanggal yang tertera, kakek saya menulis dari tahun 1949 hingga yang terakhir tahun 2009. Sepertinya sekitar tahun 2009 kakek saya sudah kesulitan untuk menulis dan memang beliau sedikit linglung sebelum meninggal dunia (1 Oktober 1921 – 1 Maret 2011).

Ternyata warisan bukan melulu soal harta, ada sesuatu yang tidak terukur yang dapat diwariskan, salah satunya kebiasaan “menulis kehidupan”. Dari buku-buku yang ditinggalkan itu, saya dapat memahami kehidupan seperti apa yang dialami oleh kakek saya, mulai dari masa sebelum kemerdekaan Indonesia, perjuangan memulai kehidupan menjadi pengusaha termasuk membuat Taman Hiburan Rakyat yang sekarang menjadi bagian dari pusat kota hingga bagaimana hubungan dalam keluarga besar kami. Kini, saatnya saya menulis kehidupan saya.

Untuk sementara belum ada yang mau menulis kehidupan saya karena saya belum menjadi orang yang “penting” dalam masyarakat. Semoga suatu saat nanti ada yang mau. Saya harus menulisnya sendiri, setiap hari. Tidak ada hari yang tidak penting. Walaupun terjebak dalam rutinitas membosankan sehingga tidak ada yang dinilai cukup layak untuk dituliskan tetapi bila hari itu saya bernafas maka hari itu penting. Tulis saja, “Hari ini aku bernafas.” Bagaimana dengan Anda? Mari menulis.

About Dode

Seorang mahasiswa Teknik Sipil yang sering disebut-sebut kurang kerjaan sampai mengerjakan hal-hal yang tidak perlu dikerjakan. View all posts by Dode

2 responses to “Mewariskan Kebiasaan Menulis Kehidupan

  • nanunot

    berarti akungmu mulai waktu umur 28 tahun ya? sama sekali tidak ada kata terlambat kalau begitu =)

    • Dode

      Gak tahu, gak pernah ngitung, yang jelas pusing aja liat bukunya.. Karena ditulis pake bahasa Mandarin Na, ini lagi jadi penerjemah yang mau dibayar dan bisa bahasa Mandarin yang model lama…hahaha… sekalian ngumpulin uang dulu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: