Lepas Juga (sebuah prolog)

Saya lupa kapan tanggal perjuangan ini dimulai, hanya ingat perjuangan menyelesaikan tugas akhir dimulai dari bulan Januari. Panjang dan lama sekali perjuangan ini, bulan November di tahun yang sama baru selesai, berarti hampir memakan waktu selama 1 tahun. Tidak ada istilah suka duka di sini, yang ada adalah putus asa dan harapan.

Saya punya harapan yang cukup tinggi dalam menyelesaikan tugas akhir ini, antara lain harus selesai tepat waktu (ikut wisuda Bulan Juli), mengerti setiap kalimat yang ada di laporan tugas akhir (bukan sekedar ada kalimat, lalu urusan selesai), memahami setiap proses yang dilakukan dan membangkitkan kembali rasa percaya diri yang hilang. Ternyata harapan itu tidak berjalan mulus karena saya sempat sakit (hepatitis A), alat pengujian tidak ada dan yang paling menghalangi saya untuk mewujudkan harapan itu adalah saya kehilangan arti siapa saya dan kenapa saya harus melakukan semua ini.

Kehilangan arti siapa saya dan kenapa saya harus melakukan semua ini memang terdengar bodoh. Bahkan salah satu sahabat saya, melalui gaya bicara dan bahasa tubuhnya, berkata untuk apa aku merasa kehilangan jati diri dan tujuan saya sampai-sampai saya kehilangan semangat mengerjakan tugas akhir bisa saya masih tergolong mahasiswa yang nyaris (lulus dengan predikat) Cum Laude, untuk apa mengacuhkan hal-hal tak berguna seperti itu. Hei, tetapi percayalah tidak semudah itu. Bagi saya, lebih baik tidak tepat waktu daripada rasa percaya diri semakin terkikis oleh karya terakhir yang dibuat setengah hati.

The way is long, so what?

Bermula dari pertengkaran kecil yang berujung dengan harus ada pembuktian bahwa saya bukan seperti yang dituduhkannya, saya membuat puluhan sticky note yang berisi hal-hal apa saya pernah saya katakan tetapi belum saya lakukan. Ini bukan janji (yang harus dilunasi) tetapi ini soal perkataan, soal sikap dan soal tindakan. Berbulan-bulan saya menyelesaikan setiap sticky note yang ada, di mana salah satunya bertuliskan tugas akhir. Tentu saja, tugas akhir ini yang dikerjakan paling akhir karena jumlah sticky note berbanding terbalik dengan pemahaman saya mengenai siapa saya dan kenapa ini semua harus dilakukan.

Jalan ini sangat panjang, tetapi bila jalan ini panjang, kenapa? Bukankah tidak ada masalah mengenai panjang-pendeknya jalan, masalahnya adalah apakah berjalan atau tidak, jika berjalan apakah di tempat atau maju. Sekarang sticky note yang bertuliskan tugas akhir telah selesai. Saya sudah cukup “kuat” untuk menceritakan apa yang terjadi dan apa yang didapatkan. Masih ada beberapa sticky note, tetapi kali ini sticky note ini berbeda, bukan lagi beban tetapi keinginan.

Pada akhirnya, tidak semua harapan dalam pengerjaan tugas akhir terpenuhi, tetapi saya puas dengan pencapaian ini. Saya tertawa pada akhirnya, walaupun banyak teman-teman saya yang sudah tertawa jauh sebelum saya tertawa. Ini bukan masalah kan? Semua tertawa berarti semua senang.

Mari segera membuat surat lamaran pekerjaan, bekerja supaya punya modal untuk mewujudkan keinginan yang lain.

About Dode

Seorang mahasiswa Teknik Sipil yang sering disebut-sebut kurang kerjaan sampai mengerjakan hal-hal yang tidak perlu dikerjakan. View all posts by Dode

4 responses to “Lepas Juga (sebuah prolog)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: