Aku Dibantu Pak Polisi

Siang itu, saya pergi terburu-buru. Rencana pukul 9 saya sudah berada di tempat yang dituju, tetapi saya bangun kesiangan. Saya semakin kalap ketika melihat mendapat SMS yang menanyakan keberadaan saya, mengapa saya belum sampai. Tiba-tiba saja saya melihat segerombolan polisi, sebagai pengendara motor yang sudah berpengalaman bertahun-tahun, saya tahu itu razia rutin. Langsung saja saya memastikan saya sedang tidak melanggar peraturan lalu lintas. Helm aman, kaca spion aman, SIM dan STNK aman. Ah lampu belum menyala, segera saya nyalakan. Salah seorang polisi menghentikan laju kendaraan saya, saya pun menepi.

Pak Polisi (PP) : Selamat pagi. Kenapa lampunya baru dinyalakan? Anda menyalakan lampu, mematuhi peraturan kalau ada polisi saja ya?

Saya (S) : Pagi Pak. Ah, kebetulan saya lupa Pak, saya sedang terburu-buru. Biasanya saya menyalakan lampu walaupun kadang lupa Pak.

Ya… Saya tidak berbohong. Saya termasuk orang yang selalu mematikan lampu bila motor tidak dalam keadaan dan menyalakan kembali setelah mesin motor menyala.

PP : Kalau semua orang seperti Anda, mematuhi peraturan kalau ada polisi, bagaimana lalu lintar bisa lancar dan aman? Coba lihat surat-suratnya (STNK dan SIM).

S : Terserah bapak mau percaya atau tidak, tetapi biasanya saya menyalakan lampu.

PP : Apa? Saya tidak dengar.

Sepertinya suara saya tidak jelas karena situasi saat itu memang ramai. Emosi saya seketika memuncak. Kenapa harus di saat saya sedang terburu-buru. Segera saya mengeluarkan SIM dan STNK dan menyerahkannya kepada Pak Polisi.

PP : Coba lihat ini, tidak menyalakan lampu utama pada siang hari melanggar (bla… bla… ). Coba lain kali patuhi peraturan, seperti kaca spion Anda ada dua, helm standar, kan sudah bagus, tinggal lampu saja coba dibiasakan.

S : Iya, Pak. Soal peraturan saya tahu, dulu saya menang lomba cerdas cermat lalu lintas. Ini karena sedang terburu-buru saja Pak.

PP : Baik. SIM Anda saya tahan. Anda sidang ya, tanggal 26.

S : Di mana Pak?

PP : di Jalan R. E. Martadinata.

S : Baik Pak.

Lalu saya melihat Pak Polisi mulai mencatat sesuatu di surat tilang, saya pun diam, mencoba untuk tenang. Setelah cukup tenang, saya memikirkan rencana ke Depok yang bisa batal karena harus sidang. Tiba-tiba Pak Polisi mengajak saya berbincang-bicang lagi.

PP : Anda ingin saya bantu atau ingin sidang saja?

S : Sidang saja Pak.

PP : Yakin Anda mau sidang? Sidang pukul 8 pagi, Anda bisa datang? Saya bisa bantu Anda.

S : Tanggal 26 kan Pak? Iya, pukul 8 pagi tidak masalah Pak.

Saya merasa aneh ketika Pak Polisi mengembalikan STNK saya berserta SIM saya. SIM saya kan seharusnya ditahan. Dengan ragu-ragu saya menerima STNK dan SIM saya.

PP : Baik, Anda saya bantu. Silakan jalan terus saja.

S : Ha? Oh, baik pak.

Saya pun memasukkan STNK dan SIM, lalu mengucapkan terima kasih. Saya pun pergi tanpa mendapat surat tilang, haha… Sudah lama sekali sejak saya kena tilang. Ternyata masih ada Pak Polisi yang menawarkan “bantuan” di zaman sekarang, saya pikir semua Polisi sudah cuek dengan yang namanya “bantu-membantu”.

Saya jadi teringat dengan film anak-anak di mana sang pahlawan harus mencari pusaka naga untuk menghancurkan kejahatan. Saat pusaka naga tinggal satu langkah di depan, sang pahlawan dihadapkan pada 2 pilihan yang sulit, pusaka naga atau nyawa teman-temannya yang tertangkap saat petulangan mencari pustaka naga. Sang pahlawan memilih nyawa teman-temannya, karena pilihannya itu hati penjaga pusaka naga tersentuh dan penjaga pusaka memberikan pusaka itu secara cuma-cuma.

Film tersebut tidak berakhir begitu saja. Kemudian penjaga pusaka menjelaskan bahwa bila sang pahlawan memilih pusaka naga daripada nyawa teman-temannya maka sang pahlawan dan teman-temannya akan dilempar ke dalam nyala api, pusaka naga akan tetap pada tempatnya. Akhirnya kejahatan yang menang, karena pembasmi kejahatan telah kehilangan tujuan atau pemahamam bahwa teman-temannya termasuk dalam mereka yang harus ditolong.

Kembali ke kejadian siang itu, seperti ketika saya memilih untuk “dibantu” maka saya akan kehilangan uang saya dan sesuatu yang lebih penting dari uang, integritas saya. Untung saja saya tidak kehilangan uang saya dan mendapatkan bukti bahwa hingga sekarang saya bisa bertahan melawan godaan, :D.

Akhir kata, semoga para pengguna jalan raya, bersama-sama dengan kepolisian, dapat menciptakan suasana yang nyaman dan aman dalam berlalu lintas.

Advertisements

About Dode

Seorang mahasiswa Teknik Sipil yang sering disebut-sebut kurang kerjaan sampai mengerjakan hal-hal yang tidak perlu dikerjakan. View all posts by Dode

6 responses to “Aku Dibantu Pak Polisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: