Sampai Kapan

Sepertinya hari itu, siang kemarin tepatnya, sensor panas tubuh saya memberikan toleransi suhu lebih dari biasanya. Alhasil terik siang itupun diserap tanpa kendali sampai saya demam. Ya sudahlah, demam seperti ini hal biasa, asal tidak terkena tipus atau terjangkit E. Coli mematikan yang sedang ramai dibicarakan. Saya pun tidur siang agar tubuh saya dapat pulih lebih cepat dan saya pun bermimpi (berasa lebay).

Dalam mimpi itu, semua barang kesayanganku yang hilang muncul kembali. Sepeda pertama yang hilang saat liburan, kipas angin yang membuat suasana kamar sedikit segar, dan barang-barang lain yang tidak dapat disebutkan satu-satu. Barang yang tidak sekedar barang, tetapi mengandung kenangan. Yang lebih mengejutkan adalah yang mengantar (atau mengembalikan?) barang-barang tersebut, kawan lama. Kawan yang membuat dapat menciptakan rasa gembira hanya dengan bertemu. Ya… Tak sama setelah barang itu kuterima dan bincang-bincang ringan seputar kabar dilakukan, aku terbangun. Kurasakan panas badanku masih melebihi normal. Muncul dalam benakku sebuah pertanyaan, “apa arti mimpi ini?”.

Ada tiga kemungkian mimpi, menurut saya, mimpi yang sedekar mimpi, mimpi yang merupakan perwujudan hal yang yang dipikirkan oleh alam bawah sadar dan mimpi yang memiliki tafsir. Awalnya saya tidak memikirkan mimpi ini, sampai saya mengecek SMS yang mungkin masuk saat saya tidur. Kudapati sebuah SMS, dan hanya ada satu buah yang masuk, dari dia. Sontak mimpi itu kembali teringat dan seakan-akan memberi tahu saya,

Masih ingat rasanya kehilangan sesuatu yang kamu sayangi?
Tidak? Saya ingatkan.
Masih ingat rasanya memiliki kebahagiaan bersama kawan?
Tidak? Saya ingatkan.
Kamu ingin benar-benar kehilangan dirinya?
Hentikan sikapmu yang tidak dewasa itu.

Tentu saja saya jadi memikirkan hal itu. Kata sahabat-sahabat saya yang mengetahui kisah kami dan keinginan kami sendiri, kisah kami sudah selesai dan tidak perlu ada yang dipermasalahkan, lupakan atau jaga hubungan yang baik. Entahlah, tanpa isyarat, kami menyakini kisah kami memang sudah selesai, tetapi ada sesuatu yang kurang. Saya bingung, bingung dan tetap bingung. Sepertinya ini mungkin hanya akan berakhir bila dia minta maaf, sesuatu yang selalu dia lakukan tanpa pernah menjelaskan apakah dia benar-benar mengerti apa yang telah dia lakukan, atau bila dua hal terakhir yang ingin kulakukan untuknya kulakukan.

Yang pertama adalah yang kami sebut M*****. Sedangkan yang kedua adalah sebuah K***, yang akan kuberikan di hari terakhir dalam jilid yang sedang berlangsung. Entahlah, saya juga tidak tahu apakah saya sendiri menantikan jilid berikutnya.

“Aku memang keras kepala dan akan tetap terus keras kepala”, egoku berkata demikian. Apakah saya akan menyesal bila sampai salah satu dari kami tanpa sempat saya memberinya maaf? Ya, saya pasti menyesal. Sesuatu yang pernah terjadi kepada ibu yang saya sayangi dan kusesali sampai sekarang. Saya hanya berharap ada solusi lain yang dapat saya lakukan sebelum hari terakhir itu atau berharap dua hal yang akan saya lakukan dapat membuat saya memberikan maaf walaupun dia tidak memintanya. Semoga, semoga saya dapat melakukannya dan semoga hal itu dapat melahirkan maaf.

Terakhir saya ingin memberi tahu bahwa pada umumnya pria merasa sangat sakit atau benci bila harga dirinya dipertanyakan atau dilecehkan. Walaupun banyak pria yang mengorbankan harga dirinya karena nafsu. Makluk yang menyedihkan.

About Dode

Seorang mahasiswa Teknik Sipil yang sering disebut-sebut kurang kerjaan sampai mengerjakan hal-hal yang tidak perlu dikerjakan. View all posts by Dode

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: