Kasih Karunia Karena Sadar

Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.
– 1 Petrus 2:19 –

Saya mendapat kutipan tersebut sewaktu mengikuti kebaktian di gereja. Sang pendeta, melalui kutipan ayat itu, menjelaskan mengenai alasan mengapa seseorang rela menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. Menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung, secara sederhana, dapat diterjemahkan menjadi mengerjakan hal yang sebenarnya tidak perlu dia kerjakan. Tidak perlu dikerjakan olehnya karena pekerjaan tersebut tidak memberikan keuntungan apa-apa bagi dirinya, justru sebaliknya, memberikan penderitaan. Penderitaan ini bukan melulu suatu siksaan yang mendatangkan bilur-bilur atau banjir air mata. Pengorbanaan waktu, tenaga, material atau pikiran termasuk dalam penderitaan yang dimaksud.

Ada dua hal yang menarik bagi saya. Yang pertama adalah “sebab adalah kasih karunia” yang merupakan hasil yang diperoleh bila syarat yang ada dipenuhi. Yang kedua adalah “karena sadar akan kehendak Allah” yang merupakan suatu syarat yang harus dipenuhi.

Hal yang pertama menimbulkan pertanyaan-pertanyaan berikut,

  • kenapa disebut kasih karunia?
  • kasih karunia seperti apa yang dimaksud?
  • kasih karunia itu ditujukan untuk siapa?

Saya tidak tahu definisi yang tepat untuk kasih karunia, yang jelas hal ini adalah sesuatu yang menyenangkan. Sepertinya kasih karunia ini ditujukan kepada mereka yang menanggung penderitaan itu. Ah… Inilah yang sering dipertanyakan oleh orang banyak, mengapa seorang yang sedang menanggung penderitaan dapat tetap tersenyum bahagia.

Pertanyaan-pertanyaan yang timbul tetap tidak terjawab, tetapi kasih karunia inilah yang membuat mereka yang “berjuang” dalam penderitaan tetap dapat merasakan kebahagian. Kebahagian yang belum tentu dirasakan oleh mereka yang jarang berhubungan dengan derita. Kasih karunia ini tidak muncul serta-merta, ada persyaratan yang harus dipenuhi. Kata kuncinya adalah “secara sadar”.

Untuk permasalahan yang satu ini, saya sangat setuju. Hasil yang diperoleh akan sangat berbeda ketika suatu pekerjaan dilakukan secara sadar atau tidak sadar. Sadar yang maksud adalah mengerti alasan mengapa melakukannya, tahu dengan pasti apa tujuan dan lain sebagainya, bukan karena rutinitas, reflek atau pengaruh alam bawah sadar. Perbedaan yang paling jelas terletak pada keihklasan saat melakukan pekerjaan tersebut dan manfaat yang diperoleh.

Ada hal penting yang terkait dengan kata kunci ini, sadar akan apa. Dalam hal ini berarti akan kehendak kehendak Allah. Lalu, apakah kesadaran seperti ini dapat diterapkan dalam semua aspek kehidupan, khususnya aspek kehidupan sehari-hari yang diisi bukan hanya oleh orang-orang yang seiman? Saya yakin setiap orang memiliki jawaban mereka masing-masing sesuai dengan tingkat kedewasaan rohaninya.

Yang menjadi pertanyaan terakhir dalam tulisan ini adalah apakah yang semua kita lakukan sudah dilakukan secara sadar? Sadar akan apa? Ya seperti itulah… Masih menjadi pertanyaan karena terkadang “kesadaran” seperti itu terabaikan. Yang jelas, marilah tetap bertekun dalam menanggung penderitaan yang tidak harus ditanggung agar dunia ini tetap indah.

About Dode

Seorang mahasiswa Teknik Sipil yang sering disebut-sebut kurang kerjaan sampai mengerjakan hal-hal yang tidak perlu dikerjakan. View all posts by Dode

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: