Lakbet

Siang ini saya pergi jalan-jalan sendirian. Ya… Sekedar untuk menghibur diri sendiri yang sejak dini hari tadi meracau karena suatu perasaan yang tidak bisa ditahan, hehe… Eh, ternyata perasaan tidak enak itu bertambah parah ketika mengetahui bahwa alat untuk pengujian bahan TA saya tidak tersedia. Rasa bersalah kepada dosen pembimbing saya kembali muncul, mengapa saya yang tidak mengambil mata kuliah dalam jumlah banyak tetap saja tidak dapat mengerjakan TA dengan baik. Ya sudahlah, lulus bulan Oktober bukan sesuatu yang buruk. Ini bukan galau, tetapi setingkat lebih tinggi dari galau, galau tingkat II. Menurut teman saya, sesama mahasiswa, tingkat ini disebut gambus, galau menembus sukma.

Di mana ada cewek cantik Kemana angin berhembus, ke sana lah saya menuju. Di awali dengan ke TB Gramedia, lalu saya menuju ke BIP, makan siang dan membeli minuman. Tempat yang terakhir dikunjungi adalah Museum Mandala Wangsit Siliwangi. Banyak hal menarik dimulai dari pegawai kasir Gramedia nan cantik, kartu ATM yang tertinggal, kerinduan makan mie ayam yang terobati, ada yang minta “uang seikhlasnya”, dan ditegur oleh Provost, tetapi kali ini hanya satu saja yang akan saya ceritakan, mengenai Lakbet. Cerita ini terjadi di TB Gramedia ketika saya melihat bagian yang berhubungan dengan tanaman dan binatang.

Haha… Padahal dulu pengen jadi dokter hewan atau ahli pertanian, sekarang malah di teknik sipil. Mana gak lulus-lulus lagi. 😐

Lalu saya teringat SMS yang berisi demikian,

Dod, kalau jalan-jalan ke toko buku, papa pesan carikan buku tentang burung Lakbet. Makasi ya…

Oke… Tidak salah ternyata saya ke sini. Cari buku, cari buku. Lakbet, lakbet… O ya, nama burung ini nama lokal atau nama yang sudah populer ya, kalau nama lokal, saya harus mencari nama yang lebih populer.

Doddey (D): Halo Pa, ini nama Lakbet nama umum? Ada nama lainnya gak?

Papa (P): Wah ya gak tahu nama Inggrisnya, yang jelas namanya Lakbet.

D: Bukan nama Inggris lo Pa, nama Indonesianya atau apa gitu… Ini bukan nama lokal kan?

P: Ya cuma tahu Lakbet aja. Kalau gak ada yang udah, gak perlu beli.

D: Oke, tak cari dulu dah. Eh, kita pernah punya burung ini gak sih? Kalau pernah kan berarti aku tahu.

P: Gak pernah, tapi burung Lakbet mirip dengan burung Kenari.

D: Oke, tak cari dulu.

Sekarang, sudah ada petunjuk mencari burung Lakbet, mirip burung Kenari. Petunjuk yang sangat jelas bagi saya karena saya mengenai banyak satwa. Kenari… Kenari… Yeah, ketemu buku tentang burung Kenari. Eh, di sebelah burung Kenari ada gambar burung, Lovebird. Kuamat-amati, dari ukuran tubuh, warna bulu, bentuk paruh, ternyata Lakbet dan Lovebird sangat mirip. Hanya saja Lovebird memiliki warna yang lebih bervariasi dan terang serta bentuk paruh yang lebih melengkung.

D: Pa, Lakbet itu ada yang warna bulu bagian kepala berbeda dengan bagian badan ya?

P: Iya.

D: Bentuk paruhnya melengkung banget?

P: Iya.

D: Bentuk badannya mirip sama burung Kenari?

P: Iya.

Yaelah… Ternyata burung Lakbet yang dimaksud adalah Lovebird. Biasa dah, kalau sudah di lapisan masyarakat umum, nama (sebutan) asli, khususnya yang berasal dari bahasa asing, selalu mengalami pergeseran bunyi. Love jadi lak, bird jadi bet. Baguslah, jadi terhibur, :D. Buku ditemukan dan misi selesai. Ternyata ada juga yang hal seperti itu selain gameboy yang menjadi gembot.

About Dode

Seorang mahasiswa Teknik Sipil yang sering disebut-sebut kurang kerjaan sampai mengerjakan hal-hal yang tidak perlu dikerjakan. View all posts by Dode

6 responses to “Lakbet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: