Hidup Saja di Hutan

Beberapa hari ini, saya merasa yang menjadi pergumulan dua semester ini semakin memuncak. Sebenarnya saya sendiri tidak tahu apa yang menjadi beban. Yang terlihat dari luar, saya baik-baik saja. Hidup saya tidak kacau dan berantakan. Begini kata orang yang sering bersama saya,

Sudah seminar, sudah ujian komperhensif, lomba terakhir dapat juara terinovatif, tidak ada kuliah, IP masih di atas 3 dan masih dapat menonton ludruk dengan tenang.

Ada yang lebih baik dari saya, tapi toh keadaan seperti disebutkan di atas tidak bisa membuat hidup saya dikatakan kacau dan berantakan. Yang jelas, saya merasa kepercayaan diri saya dalam menjalani hidup hancur sampai ke lapisan paling dasar. Sebenarnya hal seperti itu mudah bagi saya yang sering gagal. Dulu saya pernah mengalaminya.

Lalu apa yang dipermasalahkan sekarang?

Tadi kan sudah saya jawab, saya sendiri tidak tahu apa itu. Yang jelas permasalahan yang sekarang tidak sama persis dengan yang sebelumnya. Yang dulu, rasa percaya diri hancur karena kegagalan bertubi-tubi datang, tetapi sekarang saya tidak dapat disebut gagal dengan semua hal yang telah disebutkan di atas.

Awalnya saya berpikir ini karena banyak kegiatan yang belum terselesaikan, maka muncullah istilah sticky note. Kegiatan ini bukan kegiatan rutin sehari-hari. Kegiatan di sini lebih tepat diterjemahkan, mengunakan istilah Bos Aheng, gentleman agreement. Sticky note hampir seluruhnya selesai, hanya tertinggal yang memang membutuhkan waktu lama. Akan tetap hidup ini masih terasa berat, kemungkinan besar bukan sticky note yang membebani. Kalau dipikir kembali, mungkin yang menjadi penghalang untuk membangun lagi rasa percaya diri itu adalah yang berkaitan dengan siapa sebenarnya saya, saya yang saya inginkan dan orang lain inginkan serta suasana hati yang bergerak bagai rooler coaster atau baterai yang dapat diisi ulang yang sudah hilang kemampuannya menyimpan daya. Kalau diisi lama sekali, begitu dipakai langsung habis.

Yang berkaitan dengan siapa saya tidak akan saya bahas di sini. Sepertinya permasalah yang kedua lebih menyenangkan untuk dibahas, karena kemarin saya masih merasa nyaman, senang dan bersemangat, tetapi hari ini tidur dan batas akhir pengerjaan tugas pun tidak bisa membuat saja mengerjakan hal-hal yang seharusnya saya lakukan.

Oke… Suasana hati saya sekarang mudah sekali tersinggung, bahkan hanya untuk hal yang sepele. Rasanya tidak ada toleransi sekali untuk kesalahan-kesalahan kecil. Sialnya lagi ini selalu dikaitkan dengan ketidaksukaan saya melihat hal-hal yang tidak sempurna. Saya bukan orang yang selalu berpikir negatif dan tidak dapat melihat kemajuan. Bila kekurangan itu merupakan hal yang tidak dapat dihindari dan bukan buah dari kemalasan saya dapat menerima itu. Misalnya terlambat datang ke kampus karena tiba-tiba ada kecelakaan di jalan tentu saja dapat diterima, yang tidak dapat diterima adalah bila keterlambatan tersebut disebabkan karena bangun kesiangan. Berbahagialah mereka, yang secara sadar maupun tidak, berhasil melakukan labelling atas diri saya, dan bersedihlah saya karena mereka adalah orang-orang yang menjadi bagian hidup saya.

Terlepas dari apa penyebab kesalahan kecil itu, saya teringat jawaban ayah saya atas sikap keras kepala saya. Ketika merasa dituduh atau marah, orang lain selalu menjadi alasan.

Dia dulu yang mulai.
Dia yang tak mau mengalah.
Dia… Dia… Dia…

Setiap saya tidak bisa mentoleransi orang lain dan merasa paling benar, ayah saya selalu berkata,

Ya sudah, susah. Kalau memang ingin menang sendiri, hidup saja di hutan. Biar tidak ketemu orang lain.
Kalau ketemu dan tidak suka sama orang itu, bunuh aja. Toh tidak ada hukum di hutan.
Gimana? Mau diantar ke hutan? Ayo, papa antar.

Ya seperti itulah… Saya menerima bahwa dalam hidup bersama harus ada toleransi, tetapi sekarang hal itu tidak mudah. Bingung… Seberapa jauh saya harus melakukan toleransi itu. Dalam satu hari banyak sekali orang yang saya temui, mulai dari yang bertemu langsung atau melalui dunia maya, mulai dari yang hanya bercerita sampai yang minta tolong, mulai dari yang setara (teman dengan teman) sampai berbeda (bawahan-atasan). Kenapa harus saya yang selalu mengalah, itu yang ada dibenak saya. Mungkin tidak sepenuhnya benar yang saya pikirkan. Saya tidak tahu apakah orang lain juga sebenarnya juga sudah mengalah.

Ya sudahlah… Toleransi menjadi hal yang susah bagi saya sekarang hanya karena saya tidak merasa bebas, itu saja. Itu cuma penghalang bagi saya untuk membangun rasa percaya diri, tidak perlu dibahas sampai tidak makan siang. Saya tidak tahu harus menulis apa lagi, lebih baik saya makan siang saja.

Atau sebenarnya bukan kehilangan rasa percaya diri, tetapi kehilangan tujuan hidup ya…

About Dode

Seorang mahasiswa Teknik Sipil yang sering disebut-sebut kurang kerjaan sampai mengerjakan hal-hal yang tidak perlu dikerjakan. View all posts by Dode

4 responses to “Hidup Saja di Hutan

  • shinta

    waahhh….bijak sekali jawaban papa…hehehehe……….

    mari menata ulang lagi hidup kita…seperti yang dibilang orang sering bersama mas…sudah selesai semua, harusnya udah gak ada beban, ngapain harus merasa gak percaya diri???

    ketika yang hilang itu bisa dicari, masih bisa diusahakan kan??
    :p

    • Dode

      hohohohoho… masalahnya masih gak jelas, ini masalah percaya diri atau masalah semangat hidup #baru mikir pas bikin tulisannya lah… gak tahu…

      yang hilang? ngapain di cari… bikin aja yang baru…😛 #padahal yang ilang apa aja gak tahu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: