Benarkah itu Mudah?

Kritik itu biasa bagi orang yang berpikir
—Ali Sadikin—

Siang ini, kembali pemahaman yang berbeda itu terlihat. Benarkah kata yang terlontar begitu saja merupakan sesuatu yang dari hati ataukah hanya sekedar kata yang terlihat tidak serius? Bagaimana jika perbedaan itu terjadi kerena penggaruh penggunaan yang tidak tepat yang dilakukan oleh hampir semua orang? Misalnya kata solutif yang menggantikan kata solusif. Solutif terdengar lebih biasa dan benar bila dibandingkan dengan solusif. Lalu mana yang akan digunakan? Seharusnya yang benar yang dibiasakan, bukan yang biasa yang dibiasakan walaupun itu hanya dalam tingkat pemahaman.

Kata yang terlontar siang ini adalah

Memang ya mengkritik itu gampang…

dengan intonasi dan mimik muka yang sering digunakan untuk mengatakan

Memang ya ngomong itu gampang…
Coba deh buktikan, jangan asal ngomong saja.

Terlepas dari penilaian subjektif mengenai intonasi dan mimik, benarkah mengkritik itu mudah? Saya rasa tidak. Banyak perbedaan antara mengkritik dan asbun (asal bunyi). Asbun itu gampang, keluarkan saja suara-suara aneh, maka bunyi itu tercipta walaupun tidak ada arti.

Lalu bagaimana dengan kritik?

Mari gunakan contoh untuk mempermudah. Ada video mengenai pelaksanaan sebuah praktikum. Terdengar suara peraga yang sangat kecil dan terganggu suara bising. Peraga itu sedang memanaskan sebuah tabung lalu memasukkan bubuk ke dalam tabung itu.

Komentar pertama,

Ah, apaan sih video ini gak jelas banget. Gak bisa ditonton.

Komentar kedua,

Wah, peraganya juga salah, seharusnya waktu memasukkan bubuk, api itu disingkarkan dahulu, atau berpindah menjauhi apa karena tidak boleh melakukan aktivitas lain, selain pembakaran di dekat api.

Dari kedua komentar itu mana yang asbun dan mana yang kritik? Kemungkinan besar hampir semua orang akan mengatakan yang kedua, tetapi ada kemungkinan beberapa orang bingung karena menggangap kedua komentar itu mirip. Menurut saya, komentar yang pertama adalah asbun dan yang kedua adalah kritik. Akan tetapi komentar yang pertama bisa dijadikan kritik bila komentar yang terkesan menghina itu dilengkapi dengan penjelasan mengenai bagian yang harus diperbaiki.

Perhatikan komentar berikut,

Ah, apaan sih video ini gak jelas banget. Suara bisingnya terlalu mengganggu, suara peraga terlalu kecil. Seharusnya rekaman dilakukan di ruangan yang memiliki redaman suara yang baik.

Komentar yang asbun menjadi kritik yang baik karena pembuat video tersebut akhirnya tahu di mana letak kekurangan video dan bahkan ada saran yang dapat dilakukan. Komentar seperti inilah yang dibutuhkan walaupun diawali dengan kata yang cukup menyinggung. Langkah yang harus ditempuh agar asbun menjadi kritik adalah mencari letak kekurangan suatu karya. Langkah inilah kuncinya dan ini tidak mudah, karena harus ada pemahaman dan pengetahuan yang baik. Yang gampang itu asbun, kritik itu susah.

Seperti kutipan yang tertulis pada awal tulisan ini, kritik itu biasa bagi orang yang berpikir. Sepertinya kritik menjadi hal yang luar biasa bagi mereka yang tidak suka berpikir. Lalu, kenapa mengkritik masih disebut sebagai sesuatu yang gampang? Ataukan ini hanya masalah penggunaan bahasa?

Bagi saya, kasus ini bukan masalah bahasa seperti yang diungkapkan oleh Antoine de Saint Exupery dalam bahasa Inggris, Language is the source of misunderstandings, tetapi masalah bagaimana memahami sesuatu.

About Dode

Seorang mahasiswa Teknik Sipil yang sering disebut-sebut kurang kerjaan sampai mengerjakan hal-hal yang tidak perlu dikerjakan. View all posts by Dode

5 responses to “Benarkah itu Mudah?

  • Nessia

    Wah, tak disangka kejadian tadi menginisiasi semburat ide menulis🙂 Selamat, ya.

    Benar, kritik itu sulit. Sebegitu sulitnya sampai ia sering salah ditempatkan dan dimaknai.

    Pemberi kritik mempunyai tanggung jawab untuk tidak sekadar mengeluarkan suara tetapi juga mengeluarkan usaha untuk memperbaiki hal yang ia kritik.

    Dan, terkadang ada makna di balik setiap kata yang dikeluarkan, termasuk kritik. Ada kritik yang tersirat dan tersurat, implisit dan eksplisit. Kritik yang baik adalah kritik yang dapat tersampaikan dengan jelas maksudnya dan dapat meningkatkan kinerja hal yang dikritik ke arah yang lebih baik.

    Mungkin, yang lebih sulit tapi lebih mulia adalah menjadi pelaku, bukan hanya pengamat, pendengar, atau pengkritik.

    Dan, ya, bahasa adalah sumber kesalahpahaman. Karena bahkan banyak orang yang tidak dapat mengutarakan maksud dan pemahamannya (termasuk kritik) dengan bahasa yang sesuai dan dapat dipahami orang lain.

    Kritik adalah salah satu cara melukis dunia dengan lebih ideal. Namun terkadang, tanpa kita sadari, kritik juga adalah sebuah janji. Kritik juga merupakan tamparan tanggung jawab. Kritik juga dapat menjadi kesempatan.

    Jika memang panggilan Anda di sana, hidupkanlah kritik. Jadilah kritikus sejati, dengan sesedikit mungkin menorehkan luka pada hal-hal yang Anda kritik. Kritik yang baik membuat bangun, bukan jatuh.

    “An agent of change must be capable of initiating and criticizing.” [NN]

  • Dode

    Pemberi kritik mempunyai tanggung jawab untuk tidak sekadar mengeluarkan suara tetapi juga mengeluarkan usaha untuk memperbaiki hal yang ia kritik.

    Becanda nessia… Hahahaha… Bukankah usaha seseorang untuk memperbaiki sesuatu adalah dengan cara mengkritik? Ketika mengkritikpun harus diikuti dengan usaha untuk memperbaiki, lalu apa gunanya pembuat karya atau karyawannnya? bukannya mereka memang dibayar untuk itu? Kasusnya berbeda kalo yang dikritik adalah kawan sendiri, dibutuhkan usaha untuk membantu menyelesaikan bukan hanya kritik.
    Lagi ada perang antara negara A dan B, lalu ada orang yang kritik, haruskah dia melakukan usaha memperbaiki sedangkan dia sendiri negara C dan sudah berumur 70 tahun?

    “Mungkin, yang lebih sulit tapi lebih mulia adalah menjadi pelaku, bukan hanya pengamat, pendengar, atau pengkritik.’

    Mulia ya menjadi pelaku? kalau pelaku disebut akvitis, gak perlu dia mengkritik karena tugasnya adalah bergerak. Kalo kritikus memang tugasnya hanya ngoceh, ngoceh, ngoceh dan ngoceh. Yang perlu dia kerjakan hanya bagimana celotehnya didengarkan orang, yang mungkin saja usaha agar didengar itu berupa “pura-pura” menjadi pelaku.

    btw, untuk urusan luka, mungkin penjelasanmu benar, tetapi masalah luka itu urusan yang dikritik. Tidak dapat dipungkiri bahwa kritikpun dapat terlontar karena luka. Salut buat orang yang dapat mengkritik walaupun lagi terluka, biasanya orang yang luka hanya akan mengeluarkan keluhan atau caci maki. Ya begitulah… Coba deh perhatiin ungkapanan, “Bahkan ada bunga persahabatan di penjara”.

    Walaupun menjadi pelaku disebut mulia, tetapi yakinkah itu mulia, bukan mencampuri urusan orang lain, karena yang diminta adalah kritik dan saran (seperti yang bisa terlihat), bukan kritik, saran, dan tindakan. Tidak perlu orang yang mengkritik menjadi pelaku, karena tiap orang tidak bisa menjadi pelaku di banyak bidang. Kerjakan saja yang bisa dikerjakan sebaik-baiknya, sedangkan kritik adalah usaha memberikan feedback yang diminta.

  • Nessia

    Wah, masa untuk urusan begini be(r)canda, hehe. Lho, usaha kan tidak selalu harus eksekusi bentuknya. Ada banyak usaha lain yang tidak “mengambil jatah” pekerja atau pelaku.

    Saya tidak yakin apakah menjadi pelaku lebih mulia, makanya saya menggunakan kata “mungkin”. Mungkin dapat ditarik contoh dari seorang anak yang gemar merokok. Suatu hari ayahnya mengingatkan agar ia berhenti merokok karena merusak kesehatan. Tapi semakin diberitahu (dikritik), sang anak makin menggilai rokok. Akhirnya sang ayah bertanya, “Kok kamu tidak pernah menggubris omongan Ayah?” Sang anak hanya menjawab kalem, “Karena Ayah sendiri tiap hari merokok.” Menurut saya, tindakan menyelaraskan kehidupan kita dengan poin yang kita kritik sudah menjadi suatu bentuk usaha yang benar dan manis🙂

    Mengenai kritik sebagai tanggung jawab, mungkin seorang kritikus juga perlu berkaca apakah setelah ia mengeluarkan kritik, apakah kritik tersebut membuat peningkatan atau malah kemunduran. Tujuan kritik adalah mencapai tingkat ideal, namun aplikasi di lapangan mungkin banyak benturan. Sekali lagi, kritik yang benar membuat bangun, bukan jatuh.

    Saya sangat setuju dan menyemangati Anda untuk kata-kata Anda sendiri, “Kerjakan saja yang bisa dikerjakan sebaik-baiknya.” Ayo, kerjakan sesuatu yang harus dikerjakan itu…..! Tidak semua hal dapat menunggu Anda, termasuk jenjang akademik yang satu ini, bukan? (Tanpa sadar, saya pun telah mengeluarkan kritik ketika membahas kritik, hahaha).

    Sekali lagi, semangat mengerjakan dengan sebaik-baiknya!

    • Dode

      Seperti biasa…

      akhrinya terlalu jauh dari topik apakah kritik itu susah atau tidak…Kalau memang kritik itu bentuk usaha, kenapa perlu dipermasalahkan lagi soal “memperbaiki hal yang ia kritik”. Masa bodoh apakah kritik itu dilakukan atau tidak, karena yang dipermasalahkan adalah kritik, bukan tuntutan. Dalam kasus tertentu, kritik yang sama dilontarkan berulang-ulang berubah menjadi tuntutan.

      Soal kritik pasti membangun iya, pasti… Kalau kritik tidak membangun itu bukan kritik, itu asbun. Kalau itu kritik tetapi yang dikritik itu jatuh juga, yang jadi masalah adalah apakah yang dikritik cukup dewasa untuk itu. Itupun di luar pemasalahan ini.

      oke…tidak masalah, sangat dihargai pendapatnya… Termasuk semangat untuk mengerjakan jenjang akademik itu, tetapi saya memang tidak pernah memintanya untuk menunggu. Mau ninggal mah ninggal aja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: