Laksana Angin Dewa

Tidak ada pengorbanan yang lebih tinggi dari seseorang yang menyerahkan nyawanya untuk sebuah perjuangan.

Ikat Kepala Hachmachi

Jika pengorbanan nyawa yang terjadi di sejumlah negara hanya dilakukan seorang atau sekelompok pejuang dalam keadaan terdesak; dalam sejarah peperangan Jepang di Pasifik (1944), pilot-pilot muda Jepang siap mengorbankan nyawa dalam unit-unit khusus yang telah dipersiapkan dengan taktik menabrakkan pesawat yang mereka kemudikan ke kapal-kapal perang Amerika. Jepang menjuluki serangan yang tak biasa ini sebagai kamikaze atau yang dalam bahasa mereka berarti Angin Dewa.

Pasukan kamikaze ini sejatinya dibentuk oleh Laksamana Madya Tokijiro Ohnishi pada 20 Oktober 1994, Panglima Armada Udara Pertama yang membawahi seluruh kekuatan udara Jepang di Filipina. Kamikaze pertama dilakukan oleh Laksamana Madya Masafumi Arima, komandan Armada Udara ke-26 pada 25 Oktober 1994.

Sukar dinalar bahwa kekalahan, dalam tradisi dan kebudayaan Jepang, ternyata merupakan fakta yang amat memalukan. Secara turun menurun orang Jepang seperti sudah mewarisi watak untuk pantang menerima kekalahan. Dalam pekerjaan dan cita-cita, mereka akan berusaha merengkuhnya dengan gigih. Sementara dalam bertempur, mereka akan berusaha menundukkan musuh-musuhnya hingga titik darah terakhir.

Pada saat yang sangat kritikal, tentara Jepang kerap dirasuki semangat Bushido: loyal dan menjunjung tinggi kehormatan sampai mati. Inilah yang luar biasa dan tidak dimiliki bangsa-bangsa lain. Semangat ini merupakan warisan utama dari tradisi Samurai-para pejuang yang menjadi pendahulu mereka.

Semangat bushido tumbuh, hidup dan dipelihara di lingkungan Samurai – kelompok pejuang kelas menengah -atas yang rela mengorbankan nyawa demi mempertahankan budaya dan kekuasaan Kaisar. Bagi mereka, Kaisar adalah titisan Dewa Matahari yang harus dijaga keberadaannya.

Selain didasari semangat bushido, keberanian mengorbankan nyawa juga dilandasi sentimen nasionalisme akibat ketaatan yang amat tinggi terhadap Shint0 – agama yang dianut hampir seluruh orang Jepang. Shinto juga menanamkan pegangan hidup agar menaruh hormat kepada negara dan Kaisar.

Persenjataan Kamikaze

Mitsubishi A6M

Sebagai pesawat tempur yang serba bisa, Mitsubishi A6M3 Zero merupakan andalan utama militer Jepang untuk melancarkan serangan kamikaze. Sebelum dioperasikan sebgai pesawat kamikaze, kemampuan Zero telah dikenal dengan baik oleh para pilot Jepang. Dari sisi sejarahnya, Zero yang oleh Sekutu lebih sering dipanggil Zeke, dirancang oleh pakar penerbangan Jepang, Jiro Horikoshi.

Kaiten

AL Jepang juga memiliki alat kamikaze berupa kapal selam torpedo bermesin diesel yang dikendalikan manusia dan kemudian ditabrakkan ke kapal perang musuh. Kapal selam torpedo tersebut dinamai Kaiten yang berarti “Pengeser Surga”.

Ohka

Ohka, Bunga Ceri yang Meledak, merupakan bom terbang bertenaga roket dan diterbangkan oleh seorang pilot terlatih. Dalam misinya, Ohka diluncurkan dari bomber dan oleh pilotnya, Ohka diarahkan kepada target yang sudah ditentukan. Ketika meledak di sasaran, korban yang ditimbulkan lebih dahsyat dibandingkan gempuran kamikaze dengan menggunakan pesawat tempur.

Nakajima

Pesawat tempur produksi Nakajima mulai dioperasikan oleh Al Jepang pada tahun 1941. Pesawat Nakajima yang pertama kali dioperasikan AL Jepang adalah Nakajima A6M2-N, pesawat amfibi yang bisa mendarat di air. Salah satu faktor digunakannya Nakajima sebagai pesawat kamikaze adalah karena militer Jepang telah kekurangan pesawat Zero yang semula jadi andalan.

Akhir Perang

Ketika publik AS akhirnya mengetahui begitu banyak korban jiwa yang jatuh akibat serangan kamikaze, mereka sontak melancarkan protes sehingga mengguncang pemerintah AS. Guncangan politik yang berlangsung setelah kematian Presiden AS, Fraklin D. Roosevelt itu ditanggapi oleh AL AS dengan lencarkan serangan tangkat kamikaze secara besar-besaran.

Yang pasti akibat serangan kamikaze Jepang, Sekutu telah mengalami kerugian besar dan memuat Presiden AS waktu itu, Harry S. Truman sangat marah. Setelah Ohnishi melancarkan kamikaze dengan mengerahkan sekitar 2.250 unit pesawat tempur, setidaknya 71 kapal perang sekutu tenggelam dan 6.600 pelaut tewas. Untuk mecegah kerugian lebih besar baik alat perang maupun korban jiwa akibat kamikaze, Truman akhirnya memutuskan untuk menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Hancurnya Hiroshima dan Nagasaki akibat ledakan bom atom, akhirnya membuat Jepang menyerah tanpa syarat dan PD II pun otomatis berakhir.

Sumber: Angkasa Edisi Koleksi, Kamikaze: Kesatuan Udara Bunuh Diri Jepang.

About Dode

Seorang mahasiswa Teknik Sipil yang sering disebut-sebut kurang kerjaan sampai mengerjakan hal-hal yang tidak perlu dikerjakan. View all posts by Dode

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: