Satu Kata Suci, Aspirasi

Ada satu kata yang dianggap suci oleh BPA HMS ITB. Kata tersebut adalah aspirasi. Tidak ada pengesahan melalui Musyawarah Anggota atau melalui surat keputusan mengenai kesucian kata itu. Istilah tersebut saya berikan hanya karena setiap ada ketegangan mengenai nasib HMS, kata aspirasi selalu mendampingi solusi yang diusulkan. Ketika kata ini muncul, ketegangan reda dan seolah-olah permasalahan selesai.

Lalu saya bertanya-tanya, apa sebenarnya aspirasi itu. Bila menggunakan pemahaman umum, maka aspirasi akan diartikan sebagai suara anggota. Muncul pertanyaan baru, suara yang seperti apa? Suara yang berupa pendapat, kritik atau sekedar jawaban atas pertanyaan yang berhubungan dengan topik tertentu. Lagi-lagi pemahaman umum dijadikan pedoman, padahal bisa saja suara anggota itu berarti suara anggota yang sedang bernyanyi dalam acara malam keakraban, hehe…

Suatu anugerah bagi saya karena saya menemukan buku Perilaku Organisasi yang ditulis oleh Robinns dan Judge. Buku tersebut menjelaskan organisasi dalam pekerjaan, tetapi beberapa hal dapat disesuaikan untuk organisasi kemahasiswaan. Oleh karena itu, walaupun untuk organisasi tempat bekerja, dalam tulisan ini saya akan melakukan beberapa penyesuaikan sesuai dengan kondisi HMS.

Sungguh mengejutkan bagi saya ketika mendapat bahwa “aspirasi” yang menjadi hal suci di HMS hanya diletakkan menjadi salah satu dari empat hal yang ditinjau. Ternyata, empat hal yang ditinjau mengarah kepada topik pembahasan mengenai Respon Ketidakpuasan Anggota. Keempat respon tersebut adalah

  1. Keluar (exit) : Ketidakpuasan yang diungkapkan melalui perilaku yang dituujukan untuk meninggalkan organisasi.
    Perilaku yang ditujukan untuk meninggalkan organisasi, termasuk mencari posisi baru dan mengundurkan diri.
  2. Aspirasi (voice) : Ketidakpuasan yang diungkapkan melalui usaha-usaha yang aktif dan konstruktif untuk memperbaiki kondisi.
    Secara aktif dan konstruktif berusaha memperbaiki kondisi, termasuk menyarankan perbaikan, mendiskusikan masalah dengan atasan, dan beberapa bentuk aktivitas anggota.
  3. Kesetiaan (loyality) : Ketidakpuasan yang diungkapkan dengan secara aktif menunggu membaiknya kondisi.
    Secara pasif tetapi optimis menunggu membaiknya kondisi, trmasuk membela organiasi ketika berhadapan dengan kecaman ekstrenal dan mempercayai organisasi dan menajemennya untuk “melakukan hal yang benar”.
  4. Pengabaian (neglect) : Ketidakpuasan yang diungkapkan dengan membiarkan kondisi menjadi lebih buruk.
    secar pasif membiarkan kondisi menjadi lebih buruk, termasuk ketidakhadiran atau keterlambatan yang terus -menerus, kurangnya usaha, dan meningkatnya angka kesalahan.

Gambar berikut menunjukan empat respon kerangka tersebut, yang berbeda satu sama lain bersama dengan dua dimensi: konstruktif/dekstrukitf dan aktif/pasif.

Sumber: Robinns, Stephen P. dan Judge, Timothy A. 2008. "Perilaku Organisasi". Jakarta : Salemba Empat

Maaf, saya tidak mengerti, bisa dijelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana? Atau dengan menyebutkan kondisi tertentu?

HMS merupakan organisasi yang memiliki fokus pada anggota dan dipimpin oleh Badan Pengurus. Selama pelaksanaan kepengurusan mungkin saja tidak semua anggota puas terhadap kinerja BP, maka muncullah ketidakpuasan. Bentuk ketidakpuasan anggota dapat dilihat melalui empat macam bentuk yang telah disebutkan di atas. Walaupun sama-sama merupakan bentuk ketidakpuasan, tetapi ke empat respon anggota tersebut memiliki dimensi masing-masing. Misalnya, ketidakpuasan yang bersifat destruktif dan disampaikan secara pasif berarti tindakan pengabaian, sedangkan ketidakpuasan yang bersifat konstruktif dan disampaikan secara aktif berarti tindakan aspirasi.

Tidak Ada Aspirasi di HMS

Bentuk ketidakpuasan yang telah dikenal di HMS hanyalah aspirasi, walaupun aspirasi yang selama ini dikenal di HMS bukanlah merupakan suatu bentuk ketidakpuasan atau keluhan. Aspirasi di HMS lebih sering diarahkan sebagai suatu bentuk keinginan anggota. Misalnya, akan diadakan Musyawarah Anggota mengenai Laporan Pertanggungjawaban, maka BPA akan mencari aspirasi yang akan digunakan sebagai topik pembicaraan di musyawarah tersebut.

Berbeda jauh sekali ya… Lalu bagaimana yang benar atau yang tepat untuk kondisi HMS?

Saya tidak tahu mana yang benar atau yang tepat, tetapi bila diizinkan untuk memilih, saya akan memilih bahwa aspirasi adalah suatu bentuk ketidakpuasan bukan suatu usulan mengenai topik pembicaraan. Pemahaman tersebut juga akan menjawab mengapa selama ini tidak pernah terlihat anggota HMS yang secara aktif memberikan aspirasinya. Anggota HMS bukan tidak memiliki usulan topik pembicaaran, bukan juga terpuaskan 100% atas kinerja Badan Pengurus karena tidak ada aspirasi yang masuk ke BPA. Akan tetapi, menurut pengamatan saya, anggota HMS menunjukkan ketidakpuasan terhadap Badan Pengurus melalui tindakan selain aspirasi dan diperparah oleh BPA yang tidak memiliki sistem penampungan aspirasi yang baik.

Ketidakpuasan Anggota HMS

Apakah semua anggota HMS puas terhadap kinerja Badan Pengurus? Apakah semua anggota HMS tidak puas terhadap kinerja Badan Pengurus? Jawaban kedua pertanyaan tersebut adalah tidak semua anggota, hanya beberapa saja. Tidak perlu kepuasan anggota HMS diperbincangkan, karena kepuasan itu tentu saja berdampak baik dan langsung dapat dilihat melalui keaktifan anggota dalam kegiatan di HMS. Yang perlu dibahas adalah apa bentuk ketidakpuasan anggota HMS atau tindakan mana yang dilakukan untuk mewujudkan ketidakpuasan itu.

Perlu dilakuakan survei untuk menjawab berapa persen anggota HMS yang tidak puas dengan HMS dan dalam bentuk apa itu diwujudkan. Tetapi bisa saya diizinkan untuk mengeluarkan pendapat atas pengamatan saya, dari sejumlah anggota HMS yang tidak puas, tidak ada anggota yang menunjukkan ketidakpuasan itu dalam bentuk aspirasi dan keluar. Aspirasi dapat dilihat dari tidak ada aspirasi yang tertampung di BPA. Keluar dari HMS tidak dimungkinkan dengan kondisi HMS yang sekarang. Sebagian kecil akan diwujudkan melalui kesetiaan, tetapi saya yakin hampir seluruh ketidakpuasan anggota diwujudkan dalam bentuk pengabaian.

Bentuk pengabaian tersebut dapat terlihat dari hanya acara-acara tertentu yang ramai peminat, musyawarah anggota yang tidak pernah kuorum, seandainya musyawarah anggota atau forum-forum yang lain cukup ramai tetapi kesan terpaksa datang selalu ada, tidak pernah ada pembicara mengenai HMS di luar kegiatan HMS, dan lain sebagainya.

Mengubah Bentuk Ketidakpuasan

Tentunya ketidakpuasan anggota harus mendapat penangganan yang segera agar HMS tidak ditinggalkan oleh anggotanya dan menjadi lebih baik. Cara terbaik yang harus dilakukan adalah mengusahakan bentuk ketidakpuasan anggota HMS adalah aspirasi. Naif apabila BPA HMS kembali meminta aspirasi anggota tanpa memikirkan cara mengubah kesetiaan dan pengabaikan menjadi aspirasi. Terinspirasi dari tulisan dalam buku Perilaku Organiasai, anggota sebaiknya diberi kesempatan untuk mengungkapkan ketidakpuasan melalui prosedur keluhan atau negosiasi formal. Mekanisme ini memungkinkan anggota untuk tetap beraktivitas di HMS sambil meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka berupaya memperbaiki situasi.

 

Advertisements

About Dode

Seorang mahasiswa Teknik Sipil yang sering disebut-sebut kurang kerjaan sampai mengerjakan hal-hal yang tidak perlu dikerjakan. View all posts by Dode

5 responses to “Satu Kata Suci, Aspirasi

  • Bubarkan Saja BPA HMS-ITB! « Caraka

    […] membahas perubahan AD/ART HMS ITB, syarat LPJ yang belum ditagih, tuntutan audiensi yang dilupakan, tidak ada sistem aspirasi anggota, teknis pelaksanaan Musyawarah Anggota yang belum sempurna, tidak ada sistem pengawasan badan […]

  • shinta

    Haaa????
    beruntung saya menemukan buku Perilaku Organisasi…

    berasa nemuin d pinggir jalan aja..haha…
    ehh,,tapi bener ndink… nemu itu, d lapak buku2 bekas…wekekekeke………..

    Jadi teringat kuliah Perilaku Manusia dalam Organisasi…wekekekeke…………
    baguslah…bukunya bermanfaat…..

    keep writing and writing….

  • shinta

    eehhhh……reading ndinkkkk…….

  • rizqy

    terasa mmg kekuatan BPA dlm memegang massa sgt sgt kurang. shg massa cm melihat 1 BP sbg superior yg satu2nya tmpt utk dielukan skaligus dicaci. mungkinkah BPA buat proker? buat acara yg mengikat massa? dualisme?

    tulisan ini pernah dipajang dod? (walaupun gw tau klo dipajang pun ntah siapa yg baca)

    • Dode

      BPA punya proker wajib lah.. masak ada lembaga tanpa proker…. Kalau masalah cara pengikatan massa emang harus dipikirin, caranya harus berbeda dengan BP, karena dasar lembaganya juga beda… Gak mungkin dualisme sih, kalo tujuannya buat HMS.

      Dipajang? Pernah, dipanjang di blog aja… hm… yang tentang BPA ini sempet heboh kok.. ada ada lah 150an yang baca… (dari statistik WP)…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: