Janji Zoro, Sebuah Alasan untuk Hidup

Sangat menarik mengetahui alasan Zoro memiliki ambisi yang besar dan keinginan untuk tetap hidup adalah kisah mengenai masa kecilnya.

Terlalu Kuat untuk Dikalahkan

Benarkah menyedihkan menjadi wanita karena ketika tumbuh dewasa secara fisik, wanita menjadi lebih lemah dari pada pria? Anggapan bahwa wanita lebih lemah dari pria seperti menjadi alasan mengapa wanita sering dianggap lebih rendah dari pria. Wanita melahirkan emansipasi wanita untuk membela haknya. Ya… Wanita hanya ingin membela haknya, artinya wanita ingin dipandang sesuai dengan kemampuannya. Jika memang wanita itu kuat, akuilah. Jika memang wanita itu lemah, akuilah tanpa harus merendahkan harkatnya. Pria pun demikian, ada pria yang lemah, ada pria yang kuat.

Bab ini menceritakan kisah mengenai Zoro dan Kuina, sabahatnya. Kisah ini merupakan cerita mengenai masa kecil Zoro, seorang pria lemah, yang ingin melampaui Kuina, seorang wanita kuat. Zoro selalu kalah dalam permainan pedang melawan Kuina. Sampai suatu saat Kuina mengungkapkan kekhawatirannya bahwa dia akan tumbuh sebagai makluk yang lemah. Tentu saja Zoro tidak terima dengan pernyataan tersebut. Bagi Zoro, meskipun wanita bila memang lebih kuat dan merupakan saingan utama maka tidak boleh wanita itu merasa lemah, apapun alasannya.

Satu hal yang menarik adalah prinsip Zoro, prinsip semua pendekar sejati, yaitu bila pertarungan yang ditunggu-tunggu dan telah dipersiapkan dengan baik tidak jadi terlaksana hanya karena alasan yang tidak masuk akal maka dia akan menganggap dirinya sebagai seorang pecundang.

mengapa? Jelas-jelas berlatih itu baik. Lagi pula Zoro tidak kalah, hanya tidak jadi bertarung.

Karena alasan penting itu hilang. Hidup ini sepertinya tidak akan menjadi semarak bila tidak ada tujuan, dan proses mencapai tujuan itu memerlukan sebuah alasan yang menjaga langkah tetap berjalan menuju tempat tujuan. Tidak berlebihan jika sesorang yang kehilangan alasan penting untuk tetap mengejar tujuan hidup di sebut sebagai pecundang.

Dari percakapan dengan Kunia, akhirnya terucaplah janji antara Zoro dengan Kunia untuk menjadi pendekar pedang yang tidak terkalahkan. Entahlah apakah janji yang terucapkan itu hanya sesumbar belaka, tidak akan ada yang pernah tahu sampai salah satu dari mereka membuktikannya. Janji yang menjadi ambisi haruslah seperti ini, besar karena perjuangan untuk mewujudkannya.

Perilakukanlah sesama manusia secara tepat sesuai dengan porsinya, baik wanita maupun pria. Merendahkan atau meninggikan kemampuan sesorang dari kemampuan sebenarnya itu tidak baik.

Katakan dan tuliskan ambisimu, dan biarkan ambisi itu menjadi semangat hidup. Berambisilah yang tinggi, tetapi jangan lupa diri karena terlalu ambisius.

Buruk atau yang lebih buruk?

Setiap orang pasti pernah diharapkan pada pilihan. Keputusan harus diambil, tidak mungkin pilihan itu tetap dibiarkan menjadi pilihan karena tidak memilih pilihan apapun juga merupakan suatu pilihan. Secara umum, keputusan atas suatu pilihan dapat diambil melalui dua cara, yaitu intuitif dan sistematis. Apapun caranya, keputusan tersebut harus dilandasi dengan sebuah alasan yang cukup kuat. Intuitif berarti alasan dipercayakan pada intuisi akibat insting, pengalaman, keinginan, dan lain sebagainya, sedangkan sistematis berarti alasan diperoleh berdasarkan analisis dengan cara tertentu.

Bab ini memperlihatkan suatu keadaan di mana Zoro dihadapkan pada pilihan. Suatu pilihan yang sulit tetapi kemudian menjadi mudah. Sulit karena terkadang semua pilihan adalah pilihan yang buruk. Tidak mudah mencari yang terbaik dari yang buruk. Mudah karena alasan yang mendasari pengambilan keputusan dapat diperoleh tanpa perlu diragukan lagi apakah keputusan ini benar-benar yang terbaik.

Zoro tidak pernah memikirkan bahwa dia akan menjadi bajak laut. Menjadi bajak laut adalah suatu pilihan yang buruk baginya karena bisa saja kesempatannya untuk menepati janji kepada Kuina, sahabatnya, sirna di bawah perintah seorang kapten yang tidak tahu arti penting sebuah janji.

Bagaimana dengan mati? Pilihan yang satunya lagi?

Tidak mungkin Zoro bersedia mati. Mati saat itu berarti janji kepada Kuina juga tidak terpenuhi.

Zoro dengan mudah dapat memilih menjadi bajak laut karena walaupun pilihan itu adalah pilihan yang buruk. Baginya kehilangan kesempatan memenuhi janji tidak dapat diterima dengan alasan apapun. Saya yakin, bila keputusan menjadi bajak laut menjadi keputusan yang salah, Zoro pasti akan melalukan suatu tindakan gila yang akan kembali memberinya kesempatan untuk memenuhi janji kepada Kunia, dengan tetap bertanggung jawab atas pilihan yang telah diambil, yaitu menjadi bajak laut.

Hiduplah dengan sebuah alasan. Ini memudahkan Anda bila Anda dihadapkan pada pilihan yang sulit.

Referensi:

  • One Piece, Chapter 5 – The Greatest Pirate and The Invincible Swordsman karya Eiichiro Oda

About Dode

Seorang mahasiswa Teknik Sipil yang sering disebut-sebut kurang kerjaan sampai mengerjakan hal-hal yang tidak perlu dikerjakan. View all posts by Dode

9 responses to “Janji Zoro, Sebuah Alasan untuk Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: