Tag Archives: kerja

50|50

Seorang pemimpin itu kerjanya 50|50: 50% pakai otot, 50% pakai otak. Jika 100% pakai otot atau 100% pakai otak, itu bukan pemimpin namanya.
-Aris Tandiarrang, DPM Pama Distrik KPCS


Akhirnya Jadi Karyawan

Siapa yang sangka bahwa 9 hari setelah dinyatakan lulus sidang tugas akhir (bukan wisuda), saya langsung bekerja. Ya… Bukan sesuatu yang luar biasa karena banyak teman saya yang bahkan belum lulus tetapi sudah bekerja. Ada yang menjadi wirausaha muda dan ada yang bekerja di laboratorium ataupun di perusahaan asing. Ada juga yang sudah mendapat ijazah tetapi belum bekerja. Yang mana pun sebenarnya tidak menjadi masalah besar karena jalan masing-masing orang berbeda-beda. Bahkan perihal bekerja tidak pernah terbesit di benak mereka yang begitu lulus langsung melanjutkan belajar di tingkat S2.

Tertanggal 1 Desember 2011, saya mulai bekerja di PT. Pamapersada Nusantara bagian Operation Division dengan jabatan Fresh Graduate Trainee (Production Group Leader). PT. Pamapersada Nusantara yang biasa dikenal dengan sebutan Pama merupakan kontraktor tambang batubara. Ya… Sekarang saya bekerja di bidang pertambangan. Walaupun tidak punya dasar keilmuan mengenai pertambangan, kalau soal alat berat, saluran drainase dan stabilitas lereng masih tahu sedikitlah. Saya ditempatkan di Kalimantan Timur dan tergabung dalam departemen Pit Service.

Front Office Pama (Jakarta)

Akhirnya jadi karyawan juga, padahal dulu orang tua mengajarkan kalau bisa jangan jadi karyawan karena sehebat apapun karyawan selalu kalah dengan jari telunjuk. Bingung? Jari telunjuk di sini maksudnya adalah jari telunjuk bos yang sedang memerintah dengan kata lain karyawan harus selalu menuruti perintah atasan. Kalau tidak jadi karyawan jadi apa? Pengusaha? Entahlah, dari dulu saya merasa tidak berbakat menjadi pengusaha.

Saya tidak lupa bahwa (mungkin) saya sebaiknya jadi pengusaha, tetapi jadi karyawan tidak juga jelek asalkan prasyarat dan beberapa syarat ini terpenuhi. Minimal ada 2 syarat yang saya pertimbangkan ketika menjadi karyawan, yaitu penghasilan yang cukup untuk biaya hidup (termasuk tabungan masa depan) dan jenjang karir yang jelas. Sedangkan prasyaratnya adalah kepemimpinan atasan. Mengenai bagaimana kepemimpinan atasan tidak akan saya ceritakan, saya yakin masing-masing orang punya bayangan bagaimana sikap pemimpin yang baik. Saya juga yakin bahwa walaupun orang-orang punya bayangannya masing-masing, bayangan itu akan konvergen.

Ada pertanyaan yang sering sekali ditanyakan, “Berapa lama Anda akan bekerja di sini?”. Bagi saya ini bukan pertanyaan yang mudah karena ada dorongan untuk menjadi pengusaha, untuk bekerja di bidang yang sesuai dengan keilmuan ataupun untuk bekecimpung di dunia politik (untuk yang terakhir ini saya sendiri juga bingung muncul dari mana) tetapi saya tidak suka menjadi kutu loncat. Jadi, sampai sekarang pertanyaan itu belum dapat saya jawab dengan mantap.

Ternyata betah itu suatu soft-skill tersendiri,
karena tidak semua orang bisa.
-Seorang Alumni Teknik Sipil ITB Angkatan ’77-

Sekarang saya sudah bekerja di Pama, saya akan mencoba bertahan di sini. Bila Pama bisa memenuhi semua persyaratan yang ada, bukan menjadi hal yang tidak mungkin bahwa saya akan mengabdi di sini. Walaupun begitu, tidak menutup kemungkinan pula bahwa saya akan berkecimpung di hal yang sudah saya sebutkan nanti. Mari lihat saja hasilnya, sejauh apa “soft-skill” saya menjawab hal ini.


Cara yang lain

Jika ada sesuatu yang tidak dapat Anda kerjakan dengan baik, yang Anda perlu lakukan sebenarnya hanyalah mencoba untuk bertekun. Memang bertekun tidak semudah kata tersebut terucap, tetapi cobalah.

Bila usaha Anda untuk bertekun gagal, panggillah seorang sahabat. Seorang sahabat dapat memberikan dukungan dan semangat ataupun hanya sekedar tempat untuk berbagi. Dengan begitu Anda dapat kembali mengerjakan hal yang harus Anda kerjakan.

Bila Anda tidak punya sahabat, panggillah seorang musuh. Dia dapat membuat Anda kembali mengerjakan pekerjaan Anda, ia berperan seperti sahabat Anda, tetapi dengan cara yang lain.


Mengatakan Tekad

Salah satu langkah yang harus dilewati ketika hendak bekerja di suatu perusahaan adalah melamar pekerjaan. Dalam melamar pekerjaan ada satu tahapan seleksi yang disebut wawancara. Sebagai mahasiwa tingkat akhir yang sebentar lagi lulus (beberapa teman sudah dinyatakan lulus), saya dan teman-teman saya diharapkan dengan tantangan ini. Sebagian besar teman saya sudah mengambil langkah dan sudah terbukti diterima di perusahaan-perusahaan ternama sedangkan saya melamar pekerjaan baru dua kali, yang pertama gagal dites tertulis, yang kedua belum ada panggilan.

Teman-teman sebenarnya sudah menyarankan saya untuk melamar pekerjaan walaupun saya belum lulus, tetapi entah kenapa saya tidak siap. Saran lain yang saya dapatkan adalah saya dianjurkan untuk mempelajari seluk-beluk wawancara. Cara termudah mempelajarinya adalah dari membaca (buku atau artikel) atau bertanya kepada teman yang sudah memiliki pengalaman wawancara.

Wawancara bukanlah sekedar menjawab sebuah pertanyaan karena jawaban yang dilontarkan akan berdampak besar pada hasil seleksi lamaran pekerjaan dan selama pekerjaan itu dilakukan. Misalnya pertanyaan seputar motivasi bekerja, kompetensi yang diminta, masalah pengalaman atau besar gaji yang diinginkan. Yang lebih menantang dari menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh penanya adalah menunjukkan tekad. Yang saya maksud adalah bagaimana membuat penanya yakin bahwa pelamar benar-benar menginginkan pekerjaan itu atau jawaban yang dilontarkan bukan sekedar hafalan dari berbagai macam referensi.

Ketika membaca Komik Fire Fighter Daigo karya Soda Masahito, saya menemukan bagian yang menarik yaitu ketika Daigo Asahina melamar menjadi regu penolong, regu yang bertugas menyelamatkan korban bencana (tidak hanya sebatas kebakaran). Singkat cerita, departemen yang bertugas dalam suatu bencana (dalam komik ini ditekankan pada kebakaran) adalah regu pompa, regu penolong dan regu penyelamat. Regu pompa bertugas memadamkan api sedangkan regu penyelamat bertugas membawa korban yang telah diamankan ke rumah sakit.

Dari pembagian tugas masing-masing regu, regu penolong memiliki resiko kerja (kehilangan nyawa) yang lebih besar dibanding regu yang lain tetapi tetap saja regu penolong merupakan idaman setiap anggota muda. Berikut adalah jawaban Daigo ketika diberikan pertanyaan pertama yaitu “ceritakan apa motivasimu melamar jadi regu penolong?”,

Administrasi pencegahan bencana untuk mencegah kebakaran dan bencana secara dini adalah hal yang sangat penting. Tapi, seriring dengan bertambahnya populasi serta pembangunan dalam skala besar, dibutuhkan sistem yang mampu melakukan aktivitas penyelamatan secara proaktif untuk menjawab perubahan tersebut.

Untuk itulah, aku melamar menjadi anggota regu penolong. Karena merasakan betapa berharganya satu detik untuk menyelamatkan nyawa.

Dalam pemadaman kebakaran keamanan adalah nomor satu. Aku telah menghabiskan waktu selama satu tahun di lokasi kebakaran. Baru-baru ini aku merasakan bahwa pemikiranku telah sedikit berubah sejak bergabung dengan tim pemadam kebakaran. Tidak boleh sok jadi pahlawan. Pemadam kebakaran adalah kerja tim. Hal yang tak bisa dilakukan sendirian pun, akan bisa dilakukan jika para petugas bersatu dan yang lebih penting dari itu semua, yang terpenting adalah tindakan yang mematuhi prinsip dasar serta kekuatan yang dikerahkan semua orang yang bersatu dalam satu divisi pasukan.

Aku dengar, regu penolong memiliki persatuan tim yang lebih kuat daripada regu pemadam kebakaran biasa. Aku ingin semua hal yang telah kupelajari selama ini kukembangkan di regu penolong. Kemudian, aku ingin melindungi jiwa dan harta penduduk kota dengan segenap kemampuanku!

Di awal cerita, Daigo adalah seorang petugas muda yang begitu percaya diri sehingga dia sering sekali mengabaikan petugas lain (karena yakin dengan kemampunannya) dan bertindak tanpa berpikir dahulu (sehingga membahayakan diri sendiri). Lalu bagaimana mungkin dia dapat menjawab sebaik itu tanpa rasa ragu (seperti yang digambarkan dalam komik tersebut). Entah Anda terkesima dengan jawaban itu atau tidak, tetapi saya yakin bahwa bila Anda membaca secara lengkap petualangan Daigo dari saat dia melamar menjadi regu pompa sampai jawaban di atas diceritakan, Anda akan setuju bahwa jawaban di atas muncul karena suatu pengalaman hidup yang luar biasa.  Yang saya garis bawahi adalah bagaimana Daigo mengerti apa yang telah berubah dalam dirinya selama satu tahun bekerja dan bagaimana dia menyampaikan hal itu dengan baik.

Kembali ke kehidupan nyata. Ada minimal dua alasan mengapa seseorang memilih suatu pekerjaan. Yang pertama adalah “rutinitas kehidupan” dan yang kedua adalah panggilan jiwa. Yang saya maksud “rutinitas kehidupan” adalah pandangan umum bahwa setelah sekolah adalah kerja, mengejar kesuksesan yang sering kali diwujudkan dalam bentuk gaji atau sekedar urusan untuk menyambung nyawa. Tidak ada yang salah pada setiap alasan, setiap orang berhak memiliki alasannya masing-masing.

Lalu bagaimana dengan saya? Jelas saya harus bekerja karena saya tidak melanjutkan sekolah dan bohong bila saya mengatakan saya tidak ingin kaya. Apakah saya berani mengatakan bahwa motivasi saya bekerja adalah kekayaan finansial atau fasilitas yang nyaman sehingga menaikkan derajat sosial saya? Akan sangat menyenangkan sekali apabila saya bekerja di dunia teknik sipil karena panggilan jiwa, tetapi apakah setelah kuliah selama 4 tahun saya telah menemukan landasan yang kuat untuk berkata, “Saya ingin membangun infrastruktur negeri ini”?

Semoga saya bisa melewati masa perubahan ini dengan baik.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 267 other followers