Category Archives: Tugas Akhir

Anak Lab Itu Laki (Sebuah Epilog)

Entah kenapa saya selalu membedakan alasan mengapa suatu pekerjaan tidak dikerjakan. Bila pekerjaan itu dinilai kurang penting lagi untuk dikerjakan maka saya tidak protes. Tetapi saya tidak bisa tidur tenang bila pekerjaan itu ditinggalkan karena orang/kelompok yang seharusnya mengerjakan hal itu putus asa atau kalah oleh keadaan. Saya menyebutnya sebagai pekerjaan yang “terhenti tanpa diakhiri”. Pekerjaan seperti ini sangat mengganggu batin karena tidak ada yang pernah tahu siapa orang menantikan pekerjaan tersebut. Yang melakukan pekerjaan yang (mungkin) dinantikan orang lain wajib bertanggung jawab “mengakhiri” pekerjaan tersebut, ini pendapat saya. Saya yakin, siapapun itu, pasti ada yang menantikan pekerjaan yang sedang Anda buat. Mengakhiri suatu pekerjaan tidak selalu berarti pekerjaan itu selesai.

Paham tidak paham mengenai paragraf di atas saya tidak peduli, haha… Lain kali saja saya ceritakan lagi. Dulu saya pernah memulai tulisan tentang tugas akhir, baru ada¬†3 tulisan yang keluar, tetapi sekarang saya merasa cerita yang masih di pikiran ini tidak lagi penting (untuk dituliskan di sini), jadi saya bermaksud mengakhiri tulisan tentang tugas akhir itu sekarang. Mari diakhiri dengan gambar printscreen yang saya dapatkan dari akun facebook sahabat saya, Mario Gamasepto, tentang perjuangan melaksanakan tugas akhir yang berupa penelitian.

Gelora semangat Anak Lab!


Tidak Mudah

Salah satu pengalaman/nilai yang saya dapatkan selama di bimbing oleh Pak Sigit adalah pemilihan kata dalam menulis laporan. Ada beberapa contoh, tetapi kali ini saya hanya akan menceritakan satu. Contoh ini berhubungan dengan efek psikologis yang ditimbulkan dari sebuah tulisan (atau perkataan).

Ada paragraf dari laporan tugas akhir saya yang berbunyi demikian,

Analisis data pengujian ini tidak didahului dengan kajian numerik karena sifat kayu yang heterogen non-isotropis menyebabkan properties mekanik kayu berubah di sepanjang elemennya dan perilaku mekanik material sulit untuk dianalisis secara numerik.

Tiba-tiba saja Pak Sigit mencoret kata sulit dan menyuruh saya mengganti kata “sulit” menjadi “tidak mudah”. Ha? Apa bedanya bukannya keduanya dapat digunakan untuk menjelaskan bahwa dalam laporan saya tidak ada analisis numerik. Setelah mencoret, Pak Sigit menjelaskan bahwa kata “sulit” membuat pembaca (Tugas Akhir saya) seakan-akan diarahkan bahwa analisis numerik hampir tidak mungkin dilakukan. Sedangkan kata “tidak mudah” memberikan suatu harapan bahwa analisis numerik masih bisa dilakukan sekaligus suatu tantangan bahwa analisis itu hanya bisa dilakukan apabila disertai dengan ketekunan yang tinggi.

Ampun Pak… Oke, segera saya ganti Pak. Saya sepakat dengan apa yang diungkapkan oleh Pak Sigit. Dengan peristiwa ini, saya diingatkan tentang pemilihan kata dalam berbicara dan bertanya-tanya apa alasan utama pengunaan kata negasi seperti “jangan” dan “tidak” sebaiknya dihindari karena ada penggunaan kata negasi yang justru baik. Maksud saya di poin terakhir adalah tidak semua penggunaan kata negasi berdampak negatif.

Akhir kata, tulisan ini ditutup dengan sebuah kutipan yang saya dapat selama bimbingan.

Lagi-lagi waktu dan biayalah yang membatasi penelitian.
– Dr. Ir. Sigit Darmawan -


Lepas Juga (sebuah prolog)

Saya lupa kapan tanggal perjuangan ini dimulai, hanya ingat perjuangan menyelesaikan tugas akhir dimulai dari bulan Januari. Panjang dan lama sekali perjuangan ini, bulan November di tahun yang sama baru selesai, berarti hampir memakan waktu selama 1 tahun. Tidak ada istilah suka duka di sini, yang ada adalah putus asa dan harapan.

Saya punya harapan yang cukup tinggi dalam menyelesaikan tugas akhir ini, antara lain harus selesai tepat waktu (ikut wisuda Bulan Juli), mengerti setiap kalimat yang ada di laporan tugas akhir (bukan sekedar ada kalimat, lalu urusan selesai), memahami setiap proses yang dilakukan dan membangkitkan kembali rasa percaya diri yang hilang. Ternyata harapan itu tidak berjalan mulus karena saya sempat sakit (hepatitis A), alat pengujian tidak ada dan yang paling menghalangi saya untuk mewujudkan harapan itu adalah saya kehilangan arti siapa saya dan kenapa saya harus melakukan semua ini.

Kehilangan arti siapa saya dan kenapa saya harus melakukan semua ini memang terdengar bodoh. Bahkan salah satu sahabat saya, melalui gaya bicara dan bahasa tubuhnya, berkata untuk apa aku merasa kehilangan jati diri dan tujuan saya sampai-sampai saya kehilangan semangat mengerjakan tugas akhir bisa saya masih tergolong mahasiswa yang nyaris (lulus dengan predikat) Cum Laude, untuk apa mengacuhkan hal-hal tak berguna seperti itu. Hei, tetapi percayalah tidak semudah itu. Bagi saya, lebih baik tidak tepat waktu daripada rasa percaya diri semakin terkikis oleh karya terakhir yang dibuat setengah hati.

The way is long, so what?

Bermula dari pertengkaran kecil yang berujung dengan harus ada pembuktian bahwa saya bukan seperti yang dituduhkannya, saya membuat puluhan sticky note yang berisi hal-hal apa saya pernah saya katakan tetapi belum saya lakukan. Ini bukan janji (yang harus dilunasi) tetapi ini soal perkataan, soal sikap dan soal tindakan. Berbulan-bulan saya menyelesaikan setiap sticky note yang ada, di mana salah satunya bertuliskan tugas akhir. Tentu saja, tugas akhir ini yang dikerjakan paling akhir karena jumlah sticky note berbanding terbalik dengan pemahaman saya mengenai siapa saya dan kenapa ini semua harus dilakukan.

Jalan ini sangat panjang, tetapi bila jalan ini panjang, kenapa? Bukankah tidak ada masalah mengenai panjang-pendeknya jalan, masalahnya adalah apakah berjalan atau tidak, jika berjalan apakah di tempat atau maju. Sekarang sticky note yang bertuliskan tugas akhir telah selesai. Saya sudah cukup “kuat” untuk menceritakan apa yang terjadi dan apa yang didapatkan. Masih ada beberapa sticky note, tetapi kali ini sticky note ini berbeda, bukan lagi beban tetapi keinginan.

Pada akhirnya, tidak semua harapan dalam pengerjaan tugas akhir terpenuhi, tetapi saya puas dengan pencapaian ini. Saya tertawa pada akhirnya, walaupun banyak teman-teman saya yang sudah tertawa jauh sebelum saya tertawa. Ini bukan masalah kan? Semua tertawa berarti semua senang.

Mari segera membuat surat lamaran pekerjaan, bekerja supaya punya modal untuk mewujudkan keinginan yang lain.


Aku Menyelesaikannya


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 267 other followers