Category Archives: HMS ITB

Ikut Presentasi Wisuda HMS

Sebentar lagi saya di wisuda, sebagai anggota HMS tentu saja wisuda dan perayaannya merupakan sesuatu yang (seharusnya) menyenangkan. Terlebih lagi, tradisi di HMS membuat wisudawan/i bak raja dan ratu yang berhak meminta apapun. Rangkaian tradisi wisuda HMS dimulai dari japrem wisuda, wisnight dan wisday. Bagi saya, rangkaian tersebut dimulai sejak presentasi wisuda.

Karena saya sudah sedang bekerja di luar P. Jawa, tentu saja saya tidak ikut presentasi wisuda. Saya sendiri ragu apakah sebenarnya saya ingin ikut presentasi wisuda atau tidak, tetapi ada hal yang saya pikirkan. Dari dulu, perayaan wisuda selalu dibungkus dengan kata “apresiasi” yaitu memberikan apresiasi ke wisudawan/i yang disajikan melalui interaksi. Banyak pertanyaan yang ingin saya bahas, sekedar iseng karena tidak bisa ikut presentasi, yang pertama adalah apakah wisudawan/i (sekarang) betul-betul membutuhkan apresiasi saat perayaan wisuda?

Saya rasa apresiasi itu seharusnya tidak diberikan atau ditekankan hanya ketika lulus dari ITB atau hanya karena perjuangan berat itu dilalui. Hal ini menjadi semakin tidak relevan bila dihubungkan dengan interaksi karena interaksi seharusnya dilakukan sehari-hari, bukan “dipaksakan” saat perayaan wisuda -walaupun saya tidak menentang bahwa dalam acara seperti itu interaksi memang mengalami katalisasi.

Tentu saja dari paragraf tadi, pertanyaan pertama belum terjawab. Yang berikutnya adalah apakah wisuda HMS memiliki keistimewaan kalau yang diusung oleh panitia wisuda adalah penghargaan karena perjuangan, seperti yang tertulis di handout presentasi wisuda berikut,

[...] Pada tanggal 14 April 2012, ITB akan mengadakan wisuda ketiga pada tahun ajaran 2011/2012, dimana terdapat 18 mahasiswa HMS yang akan mengikuti wisuda tersebut.

Sebagai himpunan yang memiliki arah gerak kekeluargaan, sudah sepantasnya HMS memberi penghargaan kepada mahasiswa tersebut karena beratnya perjuangan yang sudah ditempuh saat masa kuliah tersebut. [...]

Bukankah memang semua mahasiswa ITB berjuang untuk lulus, lalu di mana keistimewaan perayaan wisuda HMS bagi wisudawan/i HMS dan bagi anggota HMS lainnya. Mari berpikir di luar kebiasaan.

Apa yang dibutuhkan oleh seorang mahasiswa yang baru lulus? Informasi mengenai tempat studi dijenjang yang lebih tinggi, informasi atau koneksi mengenai pekerjaan, modal usaha atau sesuatu yang lain? Naif jika wisudawan/i meminta 3 hal yang disebutkan pertama, wisudawan/i bisa minta sesuatu yang lain tersebut, setidaknya ada 2 hal yang saya usulkan, yang pertama adalah salam perpisahan yang diwujudkan dalam suatu pesan. Yang kedua adalah kepastian tempat untuk kembali.

Satu hal lagi yang ingin saya sampaikan untuk menjadi dasar pemikiran, sebenarnya apa yang perlu dirayakan ketika ada mahasiswa yang berhimpunan diwisuda? Atau apa yang dirasakan secara ada anggota HMS yang di-”nonhimp”kan? Bukankah itu yang seharusnya dibahas.

Aaaachhhhh… Berakhir sudah isengnya, capek.. mau tidur aja… langsung aja kesimpulan. Kalau ketemu saja…

Seharusnya perayaan HMS bisa merangkum semua yang dirasakan wisudawan/i HMS dari apa yang dirasakan ketika menjadi mahasiswa paling kuya sampai apa yang sudah diperoleh -selain prestasi akademik, karena kita ber-HMS- dan memanifestasikan perasaan anggota HMS yang akan kehilangan saudaranya, sedihkah? Banggakah? atau perasaan lain? Siap?

Dari interaksi sewaktu presentasi, merangkum apa yang sudah dilakukan, diperoleh dan dikorbankan dalam wisnight, kemudian ditutup dengan mempersiapkan diri menghadapi tantangan yang akan datang dengan hal-hal yang sudah diperoleh dalam wisday dengan sebuah landasan pesan yang lahir akibat rasa kekeluargaan. Tentu saja pertanyaan apakah itu akan dikemas secara dinamis atau sendu sudah bukan lagi pertanyaan yang sulit.

Tetap berharap acara wisuda HMS kali ini tidak sekedar perayaan tradisi tanpa makna… Selamat berkerja buat para panitia, khususnya untuk Socio dan Wivia, LO wisuda saya.


Kalau Kalah

Pola pikir ini kembali muncul ketika saya menghadiri presentasi dari Departemen Keprofesian mengenai persiapan suatu perlombaan. Pola pikir ini bukan pikiran saya, saya mendapatkan pola pikir ini setelah berkali-kali mendengar ceramah motivasi dari Pak Muslinang. Pola pikir ini “berlawanan” dengan apa yang tertulis pada slide penutup presentasi (lihat gambar) yang berbunyi,

Kalah, gapapa lah…
Menang, Alhamdulillah…

Sepintas tidak ada yang bermasalah dengan kalimat itu, tetapi jika ditelaah lebih jauh, kalimat itu tidak mencerminkan tekad dan motivasi untuk belajar. Kalimat itu seakan-akan menanamkan ide bahwa daripada nganggur ayo ikut lomba. Kalau kalah kan gak rugi, kalau menang ya baguslah. Secara singkat dijelaskan oleh istilah kalah ya nothing to lose, menang ya untung.

Pak Muslinang berkata sesuatu yang lain, ikut lomba jangan asal ikut lomba, cari tahu apa tujuan ikut lomba. Bila ada tujuan yang jelas, dalam situasi kalah pun banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh, menang hanyalah bonus. Secara singkat dijelaskan oleh istilah kalah aja sudah much to gain, apalagi menang.

Kurang lebih seperti itu, bingung bagaimana menjelaskan hal-hal seperti ini, rasanya kurang greget. Lebih baik Anda coba ikut suatu perlombaan, dipersiapkan dengan baik. Bila hasil perlombaan menyatakan Anda kalah, saya yakin Anda tetap akan puas dengan hasil perlombaan tersebut. Coba saja… Saya sudah pernah mencobanya.

Apakah pola pikir Pak Muslinang tersampaikan dengan baik? Entahlah. Yang pasti, menurut saya, HMS ITB perlu berpikir ulang mengenai tekad apa yang sebenarnya dibawa saat mendorong anggotanya untuk ikut serta dalam suatu perlombaan.


Ke Mana Ke Mana Ke Mana (Prolog)

Ini bukan lagunya Ayu Ting Ting tetapi lagunya Armada (Mau Di Bawa Ke Mana). Begitu… Selama mengikuti KJI dan KBGI lagu ini dinyanyikan oleh pengisi acara berulang-ulang kali, sampai terngiang-ngiang di kepala. Oke, agar tahu lagu yang mana, saya kasih contoh di atas tetapi versi bule.

Mau dibawa ke mana hubungan kita
Jika kau terus menunda-nunda
Dan tak pernah menyatakan cinta
Mau dibawa ke mana hubungan kita
Ku tak akan terus jalani
Tanpa ada ikatan pasti
Antara kau dan aku
-Armada, Mau Di Bawa Ke Mana (reff)-

Isi lagu itu menceritakan tentang sepasang kekasih yang saling mencintai tetapi salah satu dari mereka selalu menunda-nunda “arah” hubungan mereka. Begitu… Lagu ini menjadi menarik ketika kata hubungan dipadankan dengan suatu kegiatan/bidang atau apapun itu nanti dan kata ikatan pasti dipadankan dengan tujuan. Misalnya kegiatan/bidang itu digantikan dengan kata keprofesian HMS ITB.

Mau dibawa ke mana keprofesian HMS ITB
Ku tak akan terus jalani
Tanpa ada tujuan yang pasti
Antara kau dan aku

Tentu saja yang dimaksud aku di sini adalah seorang anggota HMS ITB, kau di sini adalah anggota-anggota HMS ITB lainnya atau dengan mereka yang bertanggung jawab di bidang keprofesian secara struktural. Ya… Begitulah… Menyambut evaluasi kenapa HMS ITB tidak dapat membawa satu piala pun dari 34 piala yang diperebutkan.


Papan Nama Clapeyron

Papan Nama Clapeyron, Majalah Ketekniksipilan UGM

Ini pertama kalinya bagi saya melihat majalah ketekniksipilan yang dibuat oleh mahasiswa selain Majalah Cremona. Kalau Majalah Cremona milik HMS ITB, Majalah Clapeyron milik Mahasiswa Teknik Sipil UGM. Saya tidak akan bercerita mengenai isi majalah, yang ingin saya komentari adalah papan nama Clapeyron yang ada di depan sekretariat Mahasiswa Teknik Sipil UGM.

Saya merasa perlu berkomentar karena dulu saya pernah punya ide yang berhubungan dengan papan nama juga, yaitu papan nama yang bertuliskan “Sekretariat HMS ITB”. Papan ini pernah terpajang dengan baik saat saya diterima menjadi anggota HMS, tetapi tidak lama setelah itu, papan ini rusak. Entah apa alasannya, papan ini tidak kunjung dipasang. Alasan yang paling mungkin adalah tidak ada yang memperbaiki atau papan seperti ini sudah dianggap tidak berguna.

Alasan tidak ada yang memperbaiki tidak perlu dibahas, kerjakan saja. Yang perlu dibahas adalah apakah papan seperti itu sudah dianggap tidak berguna? Saya memiliki tiga alasan mengapa papan nama tetap penting.

Yang pertama, papan nama merupakan perwujudan eksistensi. Tentu saja ini bukan satu-satunya cara untuk menunjukkan eksistensi. Eksistensi diharapkan terwujud dalam bentuk hasil karya dan tanpa perilaku apapun seluruh anggota HMS tahu bahwa Majalah Cremona itu ada. Akan tetapi bukan berarti papan nama kehilangan fungsinya. Pernahkah Anda memperhatikan yang ditampilkan dalam film kungfu, pengikut suatu perguruan sangat marah ketika tahu papan nama perguruan mereka diturunkan atau dirusak? Mereka marah karena eksistensi mereka dilecehkan.

Yang kedua, papan nama menimbulkan rasa kepemilikan. Percaya tidak percaya, papan nama bisa menimbulkan rasa kepemilikan, entah karena hal yang saya jelaskan di poin pertama atau karena papan ini menjadi semacam media untuk menampilkan identitas, misalnya logo dan nama instansi, sehingga “visi” yang diemban oleh identitas tersebut dapat dirasakan setiap melihat papan nama ini atau mungkin karena alasan yang belum saya ketahui.

Yang ketiga, papan nama dapat berfungsi sebagai papan petunjuk. Ketika Anda pergi ke luar kota dan Anda membutuhkan uang tunai, apakah yang Anda cari terlebih dahulu, mesin ATM atau papan yang menunjukkan ada ATM di sekitarnya? Tidak menutup kemungkinan bahwa ada pihak-pihak selain anggota yang akan mencari di mana letak sekretariat atau sekedar info mengenai Majalah Cremona. Mengapa merepotkan pihak-pihak yang secara “diam-diam” mencari tahu tentang Majalah Cremona, khususnya apabila mereka adalah Alumni HMS, donatur atau mitra kerja.

Setelah mengetahui alasan pentingnya papan nama, saya menyarankan Majalah Cremona HMS ITB untuk memasang papan nama. Mungkin Sibades juga dapat mengikuti saran ini. Ya… Harapan saya seminimal-minimalnya BRT memasang kembali papan nama HMS ITB.


Keprofesian HMS ITB 2011/2012

Saya bukan Badan Pengurus (BP) HMS ataupun mantan BP, saya hanya warga biasa. Sebagai anggota bisa, saya hanya perlu mengikuti perintah atas atau bersikap acuh seperti anggota biasa lainnya. Walaupun status saya hanya seperti itu,  Entah kenapa, HMS selalu jadi “mimpi buruk” bagi saya. Entah di bagian mana yang membuat mimpi itu disebut buruk.

BP HMS terdiri dari beberapa departemen, departemen yang paling menarik perhatian saya adalah Departemen Keprofesian. Padahal departemen ini tidak termasuk tiga teratas departemen yang dielu-elukan oleh HMS, menurut saya, yaitu Departemen Kaderisasi, BSO Sibades dan Departemen Kesejahteraan Anggota. Bagi saya kondisi Departemen Keprofesian ibarat telur di ujung tanduk. Bersyukur sekali, sang “telur” sadar diri dan bergerak menjauh dari ujung tanduk walaupun masih di atas tanduk. Perumpaan lainnya, Departemen Keprofesian ibarat bongkahan batu berlian. Tidak perlu dielu-elukan, hanya perlu digosok setiap saat sampai akhirnya berlian itu muncul. Siapa yang tidak akan berdecak kagum melihat kilauan berlian?

Waktu berputar dan BP pun berganti, termasuk visi dan misinya. Oke… Sedikit mengenai visi dan misi. Visi yaitu cara pandang jauh ke depan ke mana suatu organisasi harus dibawa agar dapat eksis, antisipatif, dan inovatif. Visi merupakan gambaran masa depan yang menantang yang diinginkan suatu organisasi. Sedangkan misi adalah sesuatu yang harus dilaksanakan oleh suatu organisasi sebagai penjabaran dari visi yang telah ditetapkan.

Kali ini, Visi dan Misi Departemen Keprofesian 2011/2012 adalah sebagai berikut:

Visi

Keprofesian HMS yang Progresif

Misi

  • Meningkatkan potensi ketekniksipilan anggota
  • Membuat karya nyata yang berguna bagi masyarakat
  • Membina anggota HMS untuk berprestasi
  • Meningkatkan partisipasi anggota HMS dalam kegiatan keprofesian

Sumber : Booklet Departemen Keprofesian HMS ITB 2011

Itu visi dan misi Departemen Keprofesian yang baru. Sebagai anggota biasa, saya cuma bisa berharap bahwa visi dan misi itu dapat dijalankan dengan baik serta membantu jika disuruh. Jika disuruh saja karena budaya organisasi di HMS tidak memberikan ruang gerak bagi mereka yang bukan BP untuk ikut bergerak. Pendapat saya yang terakhir ini dapat dijadikan bahan debat dan diskusi, silakan saja.

Satu hal lagi yang menarik tentang Departemen Keprofesian, sekarang ada slogan yang dikenalkan. Selama ini tidak ada departemen yang menggunakan slogan. Hanya BSO Cremona dengan “Civil Engineering Magazine” atau HMS ITB dengan “Untuk HMS yang lebih baik” ditambah kutipan mars HMS ITB, “Dengan semangat ayo maju terus, hidup HMS ITB”. Semoga slogan ini dapat merangkum seluruh visi dan misi serta menggambar seluruh kegiatan keprofesian yang digunakan terus menurus, tidak hanya dalam BP sekarang.

Oke… Slogan Departemen Keprofesian HMS ITB adalah “We Gather, We Think, We Act“. Saya pikir Departemen Keprofesian perlu membuat ulasan yang lengkap mengenai arti slogan ini dan segera mempublikasikan “semangat” keprofesian HMS ke seluruh anggota HMS. Seluruh anggota HMS, tidak pakai kata kecuali.


Angkat Tangan!

Coba teman-teman semua, angkat tangan kanan ke atas.
(dengan ragu-ragu semua orang di sana mengangkat tangan)

Sekarang coba ganti tangan kiri.
(muka orang-orang mulai binggung)

Angkat kedua tangan ke atas
(angkat tangan dilakukan diikuti dengan gumaman orang-orang yang kebingungan)

Oke… Kita ulangi. Tangan kanan lagi.
(bingung itu belum hilang, tangan kembali diangkat)

Tangan kiri.

Kedua tangan di atas.

Sekali lagi ya kawan.

Tangan kanan.
(Gerakan setiap orang mulai lincah)

Tangan kiri.
(Semua tangan kiri sudah terangkat sesaat sesudah )

Semua… (sambil meragakan gerakan ke dua tangan di angkat ke atas)
(Semua orang kembali mengangkat kedua tangan)

Terima kasih teman-teman.

Ternyata angkat tangan mudah ya…

Ternyata angkat tangan untuk membela teman waktu ditanya senior tidak susah ya…

Lain kali angkat tangan ya…

(kami mengangguk setuju kalau mengangkat tangan untuk membela teman itu mudah, karena itu tidak perlu ragu lagi)

Andrew Sotarduga Pahursip, Ketua Angkatan 2007
dalam evaluasi acara kaderisasi
kepada teman-teman seangkatan
yang sedang mengikuti kaderisasi HMS ITB.


Tiket Masuk HMS

Sepertinya sudah menjadi tradisi bahwa setiap angkatan yang akan menjadi anggota HMS ITB selalu menyebutkan janji mengenai komitmen selama menjadi anggota HMS ITB. Sebelum menjadi HMS, kami, mahasiswa Teknik Sipil angkatan 2007  juga menyebutkan sebuah janji. Berikut janji kami,

  1. Membuat HMS menjadi lebih maju dan tetap eksis di lingkungan ITB dan luar.
  2. Memberi kemampuan yang saya punya untuk kemajuan HMS.
  3. Berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan HMS.
  4. Melaksanakan sebaik-baiknya visi dan misi HMS.

Ya… Itulah janji kami, yang sering kami sebut “Janji HMS 2007″. Wisuda yang akan datang, ada anggota HMS 2007 yang akan lulus, walaupun hanya satu, saya yakin pasti ada. Semoga janji ini sudah dapat disebut “terselesaikan dengan baik” sebelum ada salah satu dari 159 anggota HMS 2007 yang tidak lagi disebut HMS atau sebelum satu orang terakhir dari kami tidak lagi disebut HMS.

Saya lebih suka pilihan yang pertama.

Emang ada yang menagih janji itu ya? Sepertinya tidak pernah ada yang janji yang dianggap tidak ditepati atau ditepati…

Entahlah… Lupakan saja tulisan bodoh ini…


Bisa Saja Semua Berpikir Sama

Mungkin Anda sekarang sedang berpikir,

Ah, besok wisday. Gak sah datang aja lah, males. Toh 1 gak datang juga gak terlalu ngaruh.

Ketahuilah kalau 159 orang berpikiran sama, jadi apa kita ini?

Berharap yang membaca sms ini bukan orang yang tega melihat teman sendiri kerja sendirian, kesusahan.

Datang wisday Bos, besok jam 5.45 WIB di himpunan (paling telat jam 6).

Yang ingin pesan makan ke L****

Yang tidak bisa datang lapor ke T****

Dresscode : baju panitia, jahim, batik (LO)

Jobdes detail besok dijelaskan, kita jadi arak-arakan.

TUNJUKKAN KITA MAMPU.

SMS jarkom persiapan wisday pada tanggal 23 Oktober 2009

 


Kenakalan Anak Muda

Student Lounge T. Sipil ITB, 15 Maret 2011


Bubarkan Saja BPA HMS-ITB!

Survei dilakukan Formappi pada 13 Januari hingga 7 Februari 2011. Jumlah responden sebanyak 564. Populasinya terdiri atas kelompok ekonomi menengah ke atas yang diwakili responden di Kecamatan Pasar Minggu dan Tebet di Jakarta Selatan serta kelompok menengah ke bawah yang diwakili responden di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara.

Dari pertanyaan tentang dukungan terhadap partai politik serta ingatan terhadap wakil rakyat dan keterwakilan di DPR, 71 persen tidak mendukung parpol tertentu. Sebanyak 14 persen dari responden yang mendukung parpol tertentu menyebutkan nama parpol yang didukung secara terbuka. Sebanyak 72 persen responden tak ingat siapa wakilnya. ”Yang membuat miris adalah 93 persen responden merasa tidak terwakili oleh DPR saat ini,” kata Sebastian.

Sumber dan baca selengkapnya di http://cetak.kompas.com/
Tanggal akses : 26 Maret 2011

Dari cuplikan di atas, saya hanya ingin mengarisbawahi bahwa tidak terwakili oleh Badan Perwakilan adalah sesuatu yang miris. Dalam sebuah buletin kemahasiswaan disebutkan bahwa BPA haruslah secara tepat mewakili anggota dalam urusan organisasi. Bila suatu badan perwakilan sudah tidak dapat melaksanakan fungsi utamanya, ya sebaiknya bubarkan saja badan perwakilan tersebut.

Judul di atas merupakan usulan beberapa teman saya yang merasa miris melihat kondisi BPA HMS sekarang ini. Seperti yang tertulis dalam Anggaran Dasar HMS-ITB Bab VI Badan Perlengkapan Organisasi Pasal 1 butir 2 mengenai Badan Perwakilan Anggota disebutkan bahwa Badan Perwakilan Anggota disingkat BPA HMS-ITB adalah lembaga legislatif tertinggi di HMS-ITB yang merupakan perwakilan anggota. BPA HMS dinilai tidak mampu menjalankan fungsi perwakilan tersebut. Selain itu banyak permasalahan lain yang tidak pernah terselesaikan.

Ah, jangan asal ngomong ya… Mana buktinya?

Justru itu yang saya permasalahkan, siapa yang seharusnya mencari bukti itu. Ada indikasi bahwa kekuasaan di BPA HMS tidak diperebutkan, kondisi ini bukanlah kondisi yang wajar. Ketika BPA tidak dapat mewakili urusan anggota dan ketika anggota cendurung tidak peduli, lalu apa fungsi BPA selain dibubarkan.

Mengutip istilah teman saya, semua yang dilakukan oleh BPA HMS atau yang dijanjikan oleh BPA HMS hanyalah merupakan, mungkin terdengar kurang sopan, cuap-cuap yang menguap menjadi kentut. Banyak alasan yang mendorong kemunculan ungkapan tersebut. Alasan itu antara lain, janji BPA bahwa akan dibentuk tim yang membahas perubahan AD/ART HMS ITB, syarat LPJ yang belum ditagih, tuntutan audiensi yang dilupakan, tidak ada sistem aspirasi anggota, teknis pelaksanaan Musyawarah Anggota yang belum sempurna, tidak ada sistem pengawasan badan pengurus yang baik, dan lain sebagainya.

BPA akan sulit bangun dari keterpurukannya karena permasalah internal pun belum dapat diselesaikan. Permasalahan internal itu antara lain, tidak ada sistem kaderisasi anggota dengan baik, kesimpangsiuran fungsi Komisi Pengawas dan Komisi Pekerja, rapat yang jarang diadakan dan minim peserta, anggota yang tidak memprioritaskan BPA, tidak ada jaminan penyelesaian masalah bagi anggota yang mengundurkan diri, dan lain sebagainya.

Apakah Anda setuju jika BPA HMS ITB dibubarkan saja?

Jangan asal ngomong deh, walaupun buruk, BPA HMS dibutuhkan sebagai penyeimbangan kekuasaan?

Ya… Sepakat dengan pendekatan itu. Akan tetapi bila penyeimbangan kekuasaan itu tidak dapat menunjukkan fungsinya, untuk apa hal tersebut dipertahankan selain untuk urusan formalitas. Saya berandai-andai, jangan-jangan urusan formalitas perlu untuk menjaga muka. Janganlah banyak cakap lagi sampai solusi konkret dapat dilaksanakan. Saya sendiri tidak tahu apa solusi yang tepat, tetapi tidak ada salahnya bila permasalahan yang ada diselesaikan satu persatu mulai dari yang penting walaupun tidak mendesak.

Buatlah sistem kaderisasi yang baik!

Survei tingkat keterwakilan anggota!

Ubahlah sistem rapat yang selama ini dinilai tidak efektif!

Tagihlah semua hutang BP kepada anggota!

Buatlah sistem aspirasi yang formal!

Lakukanlah studi tentang kesesuaian AD/ART untuk kondisi sekarang!

Sempurnakanlah standar teknis pelaksanaan Musyawarah Anggota!

Cerdaskanlah anggota!

Buatlah sistem pengawasan yang efektif!

Anggaplah data menjadi hal yang penting!

Belajarlah urusan administratif dan kesekretariatan!

Definisikan fungsi dan tugas BPA dengan baik!

Definiskan apa itu Komisi Pengawas dan Komisi Pekerja!

Tegaslah pada anggota BPA!

Berani pada Badan Pengurus dengan cara yang tepat!

Saya yakin masih banyak yang dapat dilakukan BPA HMS untuk memperbaiki kondisi tersebut. Hilang dari kegiatan organisasi selama tidak ada kegiatan yang menuntut formalitas bukanlah tindakan yang bijak. Selama tindakan di atas tetap menjadi cuap-cuap yang menguap menjadi kentut, BUBARKAN SAJA BPA HMS ITB!

 


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 267 other followers